“Goedemorgen, Mevrouw Erika. Wilt u teken van brief?” Sebuah suara berhasil mengalihkan pandanganku yang sedari tadi menatap layar komputer di hadapan.
Aku mengernyit. Antara bingung dan kaget. Kok pagi-pagi begini mejaku sudah didatangi Hans, salah satu office boy di kantor.
“Ah, ja, natuurlijk.” Akhirnya aku bersuara, seraya menandatangani surat tanda terima yang dibawa oleh Hans. Setelah mengucapkan ‘dank je wel‘ alias ‘terima kasih’ dalam bahasa Belanda, aku segera membuka amplop kecil berwarna ivory yang diselipkan di pangkal karangan bunga yang baru saja kuterima. Kubaca seuntai kalimat yang tertera di sana: ‘Heeft u zin om met mij te dineren vanavond?’ Si pengirim mengajakku dinner nanti malam. Tanpa nama.
Hmm…tulip biru, pikirku. Sejak dulu aku suka sekali tulip biru. Baru sehari tiba di Arnhem, bunga itu sudah bisa kutemukan dengan mudahnya. Padahal di Jakarta kucari ke Barito pun jarang sekali ada.
“Kamu beruntung datang ke sini saat musim semi. Kalau di musim dingin atau gugur, di sini dingin sekali, bisa-bisa badan kamu susah beradaptasi,” kata Sara, teman yang lebih dulu ditempatkan di Arnhem oleh perusahaan kami. Aku dan Sara sama-sama bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang memiliki cabang di empat puluh negara, sebagai trainee untuk masa kontrak tiga tahun. Asyiknya, pegawai yang performance-nya dinilai baik bisa mendapatkan kesempatan bekerja selama satu tahun di salah satu cabang perusahaan yang berada di luar negeri. Aku tentu tak ingin melewatkan kesempatan ini. Tinggal di luar negeri untuk sementara, kapan lagi? Beruntungnya lagi, aku ditempatkan di Arnhem, sebuah kota yang terbilang cukup indah di Belanda, dan bukan seperti beberapa rekan kerjaku yang lain yang dikirim ke negara-negara Afrika yang panas sehingga seperti tidak ada bedanya dengan tinggal di Indonesia.
Kubolak-balik amplop kecil yang ada di tanganku. Putus asa aku mencari nama si pengirim tulip biru. Hhh…, ya sudahlah, pikirku resah. Dalam hati aku pun malas menanggapi.
Kira-kira dua bulan yang lalu aku datang ke Arnhem, meninggalkan Ayah, Bunda, dan adik-adikku tercinta di Jakarta. Mimpiku seakan jadi nyata. Sudah lama aku ingin hidup mandiri di luar negeri, karena selama di Jakarta aku masih tinggal di rumah orangtuaku di kawasan Cilandak. Ayahku seorang pensiunan polisi. Ia cukup terhormat di lingkungannya. Sedangkan Bunda adalah tipikal ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan anak-anaknya. Jadilah aku seorang Erika yang selama hidupnya tak kurang suatu apa pun. Kami sekeluarga hidup berkecukupan. Kuliah pun kuselesaikan dalam jangka waktu tidak lebih dari empat tahun. Tak lama setelah aku menyandang gelar sebagai sarjana ekonomi, aku diterima bekerja di perusahaan ini.
Yang mengherankan bagiku, sejak menginjakkan kaki di Arnhem, aku justru merasa begitu kesepian. Padahal aku punya banyak teman yang menyenangkan di sini, termasuk Sara yang kini telah menjadi sahabat terdekat. Apalagi orang-orang Belanda memang pada dasarnya ramah, open-minded, dan mudah bergaul, sehingga sebagai orang Indonesia aku sama sekali tidak merasa terkucilkan.
Suatu sore sepulang kantor, Sara pernah mengajakku minum kopi di kedai terdekat dari apartemen kami. Kami memang tinggal di dalam satu apartemen namun tetap memiliki kamar yang terpisah.
Saat itu senja begitu hangat dengan angin yang seperti enggan berhembus. Tiba-tiba di tengah percakapan Sara menyeletuk, “Er, lo sadar nggak kalau Ivan naksir berat sama lo?”
Dalam hati aku langsung berteriak mengiyakan. Aku tertawa “Gimana nggak sadar kalau sebentar-sebentar nongol di messenger-ku dan ngirim emoticon aneh-aneh? Gila ya dia, caper banget jadi orang!” Sahutku sambil bercanda.
Tapi Sara tidak ikut tertawa. Dari matanya kulihat segumpal keresahan yang sedang begitu mengusik pikirannya.
“Ada apa, Sar?” tanyaku lembut. Kuletakkan secangkir caramel-mochaccino hangat kesukaanku yang sedari tadi kupegang erat-erat. “Kalau ada sesuatu, pleaseeee, cerita sama gue. Siapa tahu gue bisa bantu.”
Kegelisahannya mulai mereda. Aku kenal betul Sara. Ia seorang wanita introvert yang lembut hatinya. Dan aku tahu bahwa tidak mudah baginya untuk mengungkapkan kegelisahannya pada orang lain, sekalipun aku sebagai teman dekatnya.
Hening sejenak, tapi tak lama kemudian ia mulai bicara. “Mmm, Er, Ivan itu mantan gue. Tapi gue udah putus sama dia sebelum lo dateng ke sini…”
Aku terhenyak. Kok dia tidak cerita dari dulu? Ah, aku merasa tak enak hati. Baru saja aku menertawakan sikap Ivan padaku yang menggelikan lewat messenger, padahal Ivan itu mantannya. Kini aku ikhlaskan diri jika Sara mau protes atau marah padaku.
Aku masih menatapnya, kini dengan permohonan maaf. Tapi ia tak peduli dan lantas berbicara lagi. “Er…, lo suka dia?” Tanyanya hati-hati.
Aku semakin terhenyak, dan tanpa pikir panjang aku menjawab dengan tegas, “Nggak.”
Sara menghela nafas. Lega. “Gue bukan ngelarang lo suka sama dia, Er, tapi.., sebenernya.., gue masih sayang banget sama Ivan…” Satu dua bulir air mata mulai mengalir di pipinya yang seputih salju.
Kemudian aku memeluknya. Ah, Sara, pikirku. Mengapa ia bisa berpikir yang bukan-bukan? Padahal tidak sedikit pun aku menyukai Ivan. “Er, mungkin lo akan anggep gue gila, tapi entah kenapa gue masih percaya banget kalau suatu waktu gue bakal balik lagi sama Ivan.” Timpalnya lagi.
Aku biarkan ia bercerita sepuasnya. Cerita tentang kepercayaannya akan benang merah. Bahwa katanya di setiap jari kelingking kiri wanita telah terikat simpul benang merah tak kasat mata yang tersambung pada jari kelingking seorang pria. Pria itulah yang akan menjadi jodohnya. Sara bilang ia bisa melihat bahwa benang merah di jari kelingking kirinya tersambung pada jari kelingking kanan Ivan. Pertama aku ingin tertawa. Benang merah…, gumamku dalam hati, kok hari gini cewek cantik dan cerdas macam Sara masih percaya takhyul?
Setahuku Sara memang seorang gadis Jawa keturunan Keraton yang kadang-kadang bisa menggunakan indera ke-enamnya. Pernah suatu kali ia bilang bahwa di apartemenku ada ‘sesuatu’. Tapi, belum sampai ia menjelaskan inti ceritanya, aku sudah menyuruhnya berhenti karena bagiku lebih baik aku tidak tahu sama sekali daripada aku ketakutan setengah mati.
Begitulah. Antara percaya dan tidak, aku mendukung keyakinan Sara. Tentu sebagai sahabat aku ingin melihatnya sedikit tersenyum saat ia sedang resah luar biasa.
Kulirik jam dinding di ruanganku. Bukan ruang privat memang, karena ada sekitar sepuluh orang yang bekerja di dalamnya. Semuanya adalah pelaksana di bagian audit. Sedangkan Sara dan Ivan sama-sama masuk ke dalam bagian marketing dan berada di ruangan lain. Aku hendak meng-klik mouse ketika kursor di layar bergerak ke kotak shut down. Sudah waktunya pulang, dan aku tak punya pekerjaan lagi yang harus kukerjakan hari ini. Namun belum sempat aku menekan mouse, muncul instant message bertuliskan ‘Tot 7.00 uur!’ yang artinya ‘sampai ketemu jam tujuh’. Ternyata itu Ivan. Ah, cerobohnya aku sampai-sampai lupa menutup Yahoo! Messenger. Lantas sesegera mungkin kututup window tersebut tanpa kubalas terlebih dahulu, dan mematikan komputer. Karangan bunga tulip yang cantik itu kuberikan kepada office boy untuk dibuang. Aku pulang dengan perasaan lega. Tak mungkin aku memutuskan untaian benang merah yang tersambung antara jari kelingking Sara dan Ivan.
***
Apartemenku berantakan tak karuan. Beginilah resiko tinggal di luar negeri, tak ada pembantu yang biasa dipekerjakan untuk beres-beres rumah seperti di Jakarta. Aku bukan orang yang resik, rapi pun tidak. Seingatku kamar tidur yang kini bak kapal pecah itu memang sudah tiga hari tak kubersihkan. Tapi tekadku bulat, sebelum jam sepuluh aku sudah harus bisa membereskan semuanya!
Sekitar jam dua belas aku membuka notebook dan menyambungkan kabel internet. Aku rindu pada Ayah dan Bunda. Juga pada Riza dan Riva, adik kembarku yang usianya hanya terpaut tiga tahun denganku. Malam ini aku sudah janji akan ber-messenger ria dengan mereka. Tepat pukul tujuh di Jakarta, mereka pasti sudah selesai menikmati sarapan pagi.
Beberapa detik kemudian hubungan tersambung. Tak seperti biasanya, kali ini mereka menyapaku dengan nada muram. Ada apa ini?, pikirku khawatir.
Setelah Ayah dan Bunda yang berbicara denganku, kini giliran Riva dan Riza. Namun tiba-tiba sebuah pertanyaan aneh langsung keluar dari mulut Riva. “Kak, kakak beneran baik-baik aja di sana?”
“Baik. Baik sekali. Kok nanyanya kayak gitu?”
“Oh..nggak, nggak apa-apa.” Riza dan Riva saling berpandangan.
Aku jadi curiga. “Hey, anak-anak nakal, ada apa sih? Mau ngerjain Kakak, ya? Ahh, basi! Emang Kakak nggak tahu kapan kalian bohong dan kapan kalian serius?”
Mereka terdiam dan sekali lagi saling berpandangan.
“….ngggg…gini Kak..,” sahut Riza terbata-bata.
“Gini apa? Yang jelas, dong kalau ngomong.”
“…”
“Halloooo…..,” aku semakin tidak sabar.
Akhirnya mereka menyerah. “Oke, oke, kami kasih tahu. Tapi Kakak janji nggak bakal kenapa-kenapa, ya.”
“Sip!”
“Kak, kemarin Riza dapet e-mail dari temennya. Isinya pemberitahuan, bahwa temennya akan melangsungkan resepsi pernikahan di Kompleks Bidakara..,” terang Riva.
“…so?” Tanyaku singkat. Ada urusan apa antara pernikahan teman adikku dengan AKU?
“…nggg…waktu Riza lihat nama calon mempelainya prianya, di situ tertulis nama Adhyaksa Nandiwardhana…”
Kepalaku seketika terasa berputar. Vena-venaku seakan copot dari jantung. Setelah itu aku tak mampu melihat apa-apa lagi.
Kulihat Sara telah duduk di sampingku ketika aku sadar. Sedetik pertama aku terbengong-bengong heran mengapa aku sudah berada di tempat tidur dan ditemani Sara pula. Sedetik kemudian ingatanku pulih, bahwa beberapa jam yang lalu aku nyaris tewas karena aku mendengar berita paling menyakitkan yang pernah kudengar.
Adhyaksa Nandiwardhana — atau yang biasa kuingat dengan Dhana. Dia pernah menjadi bagian dari masa laluku. Duniaku. Setahun kami bersama, kami telah membangun mimpi-mimpi indah di kemudian hari. Kami rangkai asa untuk kehidupan di masa depan berdua. Aku mencintainya sedemikian rupa. Sampai suatu saat keluarga besarnya menentang rencana yang telah kami susun rapi-rapi. Mereka bilang aku bukan orang yang tepat untuk Dhana. Tanggal lahirku tidak akan dapat selaras dengan tanggal lahirnya jika menggunakan perhitungan Jawa. Menyakitkan. Perpisahan kami seakan telah ditakdirkan.
Sebagai putra pertama dalam keluarga besar, Dhana harus memikul mitos dan kepercayaan tersebut, karena kalau pada akhirnya pernikahan berakibat buruk, maka aib yang harus ditanggung keluarga luar biasa besarnya. Aku benar-benar kecewa. Ketika berita tersebut sampai ke telinga orangtuaku, mereka justru berbalik marah kepada keluarga Dhana sehingga mebuat kondisi semakin memburuk. Tanpa ampun lagi, aku pun berpisah dengan Dhana. Itu memang sudah terjadi satu setengah tahun yang lalu. Namun saat kemudian beberapa jam yang lalu aku mendengar berita itu, aku sadar bahwa waktu satu setengah tahun belum cukup untukku melupakannya.
Sara tertegun mendengar ceritaku. Dari awal sampai akhir cerita aku hanya mendengar ia bergumam “Ya Tuhan…” berulang-ulang, dan pada akhirnya barulah ia berkata lain, “Ternyata lo lebih tegar dari yang gue kira ya Er,” gumamnya, mengakhiri ceritaku pagi itu.
***
Delapan bulan sudah pernikahan Dhana, dan selama delapan bulan tersebut aku berusaha untuk survive dan mencoba untuk bangkit kembali. Bukan hal yang mudah, namun beruntung bagiku karena Dhana berada di Jakarta yang beribu-ribu mil jaraknya dari Arnhem.
Kini aku tengah mempersiapkan pesta pernikahanku dengan Vino, lelaki pilihan Ayah dan Bunda yang masih memiliki hubungan kerabat jauh dengan keluarga Ayah. Pertemuan atas nama perjodohan, hal yang sangat biasa dalam keluarga besarku. Dulu kami pernah berkenalan, lima tahun yang lalu di sebuah resepsi pernikahan, dan baru dua kali bertemu lagi setelahnya, ketika ia secara khusus dua kali mengunjungiku ke kota ini.
Terus terang aku belum mengenal Vino secara mendalam, maksudku, bagaimana kami bisa menyelami pribadi masing-masing dengan kuantitas waktu pertemuan yang begitu minim? Tapi ketika pertama kali ia datang ke Arnhem, aku dapat merasakan bahwa ia adalah orang yang tidak akan pernah main-main dalam sebuah hubungan. Ia serius, sedikit berbicara tapi banyak bekerja. Ia baik hati dan pekerja keras. Dan yang lebih penting lagi, kedewasaannya membuatku bebas melakukan apapun yang aku inginkan sebagai wanita karier. Waktu itu aku berpikir bahwa semua kriteria suami ideal ada padanya.
Bahwa ia orang yang tidak main-main, analisaku benar. Dua bulan kami berpacaran, ia mengajakku bertunangan. Aku mengiyakan karena aku yakin orangtua kami pun akan gembira bukan kepalang. Dan sekarang hari pernikahan pun hampir tiba. Keluarga besar kami sedang mempersiapkan segala sesuatunya di Jakarta. Tinggal menunggu kepulanganku yang rencananya akan dipercepat enam bulan dari masa kontrak satu setengah tahun yang sudah kutandatangan dengan perusahaan sewaktu di Jakarta.
Suatu malam, seminggu sebelum aku kembali ke Jakarta, aku mengajak Sara dan beberapa teman kantorku ke sebuah restoran untuk merayakan farewell party kecil-kecilan. Awalnya aku dan teman-temanku sempat berpikir untuk mengadakan bachelorette party sekaligus, namun niat tersebut aku urungkan karena pertimbangan biaya.
Kami mengobrol dengan seru. Apalagi kalau bukan seputar pernikahan? Lateefa, seorang gadis Arab modern asal Mesir, menganggap bahwa pernikahan bukan pilihan utama hidupnya sekalipun ia telah berusia akhir duapuluhan. Rupanya ia trauma pada tradisi di negara-negara Arab di mana wanita yang sudah menikah kerap diperlakukan seperti budak. Shanice yang afro-Amerika mengaku baru berpikir untuk menikah setelah tinggal bersama satu atap selama empat tahun dengan kekasihnya. Jeanne yang asli Belanda mengungkapkan kekagumannya pada wanita Indonesia yang kebanyakan masih siap berkomitmen dan berdedikasi pada keluarga sehingga membuat banyak pria Belanda yang memperisteri orang Indonesia. Alisha, teman kantorku yang berasal dari India, mengeluarkan uneg-unegnya mengenai tradisi perjodohan di India.
“Kadang kita berada dalam posisi serba salah. Di mana di satu sisi akan membahagiakan orangtua, namun di sisi lain seumur hidup kita akan menderita karena menikahi lelaki yang sebenarnya bukan kita kehendaki..,” sahut Alisha. “…menikah itu cuma sekali, jadi aku tidak mau memutuskannya dalam sekejap hanya dengan satu alasan. Bukan juga karena dikejar usia. It’s really worth to wait, until you hear your heart says that ‘he’s the one’…”
Seketika kami semua terdiam. Paling tidak, aku. Kalimat Alisha seakan terserap dalam otakku. Lantas pikiranku tertuju kepada Vino. Is he ‘the one’? Bahkan untuk pertanyaan sesingkat itu pun aku tak mampu menjawabnya.
Apakah selama ini aku hanya lari dari kenyataan? Mungkin. Apakah selama ini aku hanya ketakutan menghadapi situasi yang mungkin akan sungguh menyakitkan di Jakarta nanti? Bisa jadi. Aku hanya berpikir akan kepentinganku sendiri. Aku hanya butuh Vino untuk melindungi harga diri dan gengsiku di depan Dhana. Sama sekali aku tak pernah terpikirkan bahwa setelah menikah, aku akan hidup bersama selamanya dengan Vino. Mungkinkah sebuah rumah akan kokoh jika fondasinya saja sudah rapuh?
Berhari-hari aku memikirkan hal ini. Malam demi malam mataku tak sanggup kepejamkan. Namun hari ini tekadku telah bulat, bahwa aku akan membatalkan seluruh persiapan pernikahanku di Jakarta. Sudah agak terlambat, tapi kurasa akan lebih baik jika kukatakan sekarang juga mengingat persiapan telah mencapai lima puluh persen. Sungguh, sebenarnya aku tidak mau menyakiti hati Vino. Tapi tentu ia akan lebih hancur lagi jika ia mengetahui isi hatiku saat kami telah menikah nanti.
Otakku masih berputar untuk mencari alasan untuk membatalkan pernikahan. Pertama aku menelepon Vino. Ketika telepon tersambung mendadak lidahku kelu. Aku hanya sanggup berkata, “Vino, i’m so sorry dear.., i can’t be with you anymore…” Klik. Sambungan terputus dari sana. Vino bahkan tak bertanya apa-apa lagi sesudahnya. Air mataku mulai menetes. Akan kutunggu, Vino, sampai kapan pun kau rela memaafkan, bisikku dalam hati. Kepada keluargaku, aku hanya berkata: ”Bunda, Ayah, maafkan Erika.” Aku hanya bisa menjelaskan satu alasan yang tidak masuk akal namun selalu mengingatkan aku pada kekuatan cinta Sara; “…aku tidak bisa menikah karena benang merah di jariku tidak tersambung pada jari Vino…”
***
Musim semi kembali datang di Arnhem. Setelah membatalkan pernikahan dengan Vino, aku memutuskan untuk tetap di Belanda, meneruskan kontrak kerja sampai selesai agar tidak dikenakan sanksi yang berjumlah ribuan dolar. Tanggung, tinggal dua bulan lagi. Selain itu, kerinduanku untuk melihat tulip biru yang hanya datang di musim semi pun bisa terobati. Pagi ini adalah pagi terakhir aku masuk ke kantor, karena hari Minggu dua hari lagi aku akan pulang ke Jakarta. Aku masuk kantor dengan penuh semangat. Di tangan kananku terjinjing kantong besar berisi box kue tiramisu untuk kubagikan dengan rekan-rekan kantor yang lain.
Sampai di ruangan, kudapati pemandangan yang membuatku tertegun. Sekuntum tulip biru diletakkan di atas meja kerjaku, disertai sebuah kartu ucapan bertuliskan: “Kijk onder! Ik wacht van jou aan de weg. Mag ik je naar huis brengen?”
Aku melihat ke jalan lewat jendela persegi berukuran besar di belakang meja. Seorang pria menunggu di sana, membawa rangkaian tulip biru di tangannya. Dia tidak mungkin Ivan karena Sara telah berhasil merebut hatinya kembali sebulan yang lalu. Juga tidak mungkin Vino yang hingga kini belum memaafkanku.
Itu Dhana. Dengan senyum khasnya, dengan rambut tebalnya yang berkibar tersepoi angin. Aku tahu itu Dhana. Bahkan setiap jengkal sosoknya pun masih kuingat dengan jelas. Aku menghambur ke luar kantor dan berlari menghampirinya di seberang jalan. Sadar ia telah menikah dengan wanita lain, kuredam keinginan untuk memeluknya walau sekejap saja.
“Aku tidak jadi menikah, Er… Semuanya kubatalkan. Aku tak akan pernah peduli lagi tentang mitos-mitos itu. Maafkan aku yang dulu. Aku tahu aku tidak akan pernah menikah.., kecuali sama kamu.” Kata-katanya terhenti sejenak, lalu dilanjutkan dengan kalimat terindah yang dulu pernah kuimpikan; “Will you marry me? Pulang ke Jakarta sama aku, ya? Mag ik jou naar huis brengen?”
Mataku berkaca-kaca. Baru kemudian aku sanggup memeluk dirinya. Erat. Sambil mensyukuri karena aku sempat percaya bahwa mitos tentang benang merah itu benar-benar ada. Entah apakah pada kenyataannya benang itu memang tersambung antara jariku dan jari Dhana atau tidak, yang jelas kini aku bahagia.
(Jakarta, 14 Februari 2007)