R.I.P.

This place is where Nathan most remember about his grandma, the one who would running around chasing him, just because he would hardly say ‘Yes’ to eat the porridge made by herself every morning. Grandma was disappointed, but Nathan didn’t care.

Grandma paid much attention when Nathan was in elementary grades. She patiently taught the basic Algebra or Physic, two of the subjects which Nathan really hates. Grandma one day said that everyone must study hard to pursue their dreams, but he thought that Grandma was just kidding him.

Grandma was reminding Nathan to go pray at the church nearby on Sunday. But Nathan would prefer spend his Sunday morning to play. He ran away to the savannah and catch the bugs which were massively coming in the spring of May.

***

The wise and old lady is wearing her favorite flowery dress, with soft ribbon around its neck. Perfectly wraps her wrinkled neck.

This place is where Nathan eventually must say goodbye to his grandma. She looks old after years gone by. He feels sorry for disobediences he made through the times, and for all the mistakes said and done.

The coffin is ready to be closed thightly. A thin body finally gave up and met its destiny. Grandma smiles in peace. She feels relieved when she had to release her beloved grandson from the leukemia which broke him into pieces.

Published at: http://flashfiction.ubudwritersfestival.com/2010/09/r-i-p-3/

Courtesy of Ubud Writers and Readers Festival 2010

Akibat Korupsi

“Ayo, maju! Kita lawan segala bentuk kecurangan. Korupsi menggerogoti rakyat. Korupsi merampas kesejahteraan rakyat. Itu uang rakyat, Bung! Uang mereka untuk makan supaya meneruskan jantung agar bernyawa. Uang mereka untuk mereka berseAkolah dan mendapat ilmu demi mencapai cita-cita. Bukan untuk kau bawa raib dengan gundik di hotel bintang lima. Apalagi untuk kau habiskan di Eropa sambil berfoya-foya!!!”

Desing tembakan angin membahana di sepanjang jalan Rasuna Said, Kuningan. Massa yang awalnya bergerak damai kini menjadi anarkis dan ricuh berhamburan. Mereka tidak terima ketika Satpol PP mencoba mengusir mereka dari depan gedung gedung KPK yang kini serupa panggung hiburan, dengan penonton yang menari mengikuti ritme emosi tak tertahan. Seorang kawan tersungkur di jalan. Para wartawan berlomba-lomba merekam gambar untuk dijadikan napak tilas sebuah jaman.


Jakarta, 16 Juni 2013

Potret Jakarta yang semakin hiruk-pikuk dan semrawut. Kemacetan yang telah menjadi mimpi buruk. Pengamen jalanan, pengemis, penjual asongan yang tak lelah mengais rejeki di bawah sengat mentari di tengah ufuk. Kemiskinan menjadi nyanyian rakyat, yang kerap diiringi oleh rentetan klakson dari dalam Alphard. Sementara seorang pria berpakaian formal duduk pada sebuah sofa beludru. Lengkap dengan atribut manset emas pada dasi warna kelabu. Sebuah LED Plasma 60 inci berdiri megah di hadapan. Tayangan berita CNN tentang kerusuhan massa di Jakarta menarik sejenak perhatian. Ia mengambil IPad dari dalam tas kerjanya. Melaui e-mail pribadinya, ia menuliskan sebuah pesan singkat kepada si asisten jempolan:

“Pada press release malam ini, tolong sampaikan bahwa saya sedang dalam perundingan alot dengan Perdana Menteri Rusia serta jajaran staf-nya untuk membicarakan nilai impor Sukhoi demi meningkatkan fasilitas pelatihan Angkatan Udara.”

Sudah cukup asupan Vodka ke tubuhnya hari ini. Kali ini ia hanya menenggak segelas Dry Martini. Kemudian ia melenggang masuk ke dalam Bentley Continental biru tua menuju Moscow Demodedovo Airport untuk melanjutkan perjalanan dinas-nya ke Istanbul, Turki. Nurani-nya telah benar-benar pergi.

***

Published at: http://96.30.60.220/~ubudwri/flashfiction/2010/09/akibat-korupsi-2/

Courtesy of Ubud Writer and Readers Festival 2010

When Your Relationship Is On Its Last Legs

ist2_1869935-tying-the-knot1“Love never dies a natural death. It dies because we don’t know how to replenish its source.

It dies of blindness and errors and betrayals. It dies of illness and wounds;

 it dies of weariness, of withering, of tarnishing.”

~Anais Nin-

 

Bagi yang tahu siapa gerangan Anais Nin, mungkin hal yang terbersit adalah bahwa kalimat di atas hanya bentuk estetika biasa ciptaan seorang pujangga. Anais Nin adalah seorang penulis pada masa Perang Dunia II hingga dekade 70-an, ia seorang feminis sekalipun beberapa kali menikah dan behubungan dengan banyak pria, dan yang kontroversial, ia juga kerap dihujani rumor miring bahwa dirinya biseksual. Namun tak ada seorang pun ketika itu yang memungkiri dirinya sebagai seorang penulis hebat.

 

Kutipan tersebut, yang dilontarkan Nin mungkin hampir setengah abad yang lalu, memiliki makna yang tak lekang oleh masa dan waktu. Ia seolah tahu bahwa satu hari, sebuah hubungan percintaan dua manusia dapat berakhir dengan mudahnya. Seperti selebritis lokal di tanah air maupun bintang Hollywood yang dapat berganti pasangan sesering Anda berganti pakaian. Atau bagaimana tidak berharganya sebuah hubungan pernikahan yang resepsinya direncanakan setahun penuh namun hanya bertahan sampai 1-2 tahun ke depan.

 

Marilah kita berkaca pada diri sendiri. Saya yakin tidak ada seorang pun di antara Anda yang menghendaki ini terjadi. Namun aktivitas yang kita jalankan untuk survive di kota besar seringkali mendorong terealisasinya hal tersebut. Lihatlah bagaimana waktu seakan terus mengejar kita. Ketika bangun di pagi hari, benak Anda mungkin sudah dipenuhi rentetan tugas kantor. Waktu makan siang Anda bergeser menjadi sore karena meeting penting dengan client. Jangankan waktu untuk orang terdekat yang Anda sayangi, kadang Anda pun merasa tak punya cukup waktu untuk diri sendiri. Lantas, bagaimana jika pasangan mulai mengeluhkan hubungannya Anda yang membuat hubungan tersebut nyaris bubar? Apa yang harus Anda lakukan selain bermimpi memutar waktu?

 

Seimbangkan Peran

Apa yang Anda lakukan setiap hari adalah sebuah tuntutan dari peran yang Anda jalankan. Semakin banyak peran yang Anda miliki, maka akan semakin besar pula tuntutan yang menyertainya. Ambil contoh Anda telah menikah dengan dua anak, bekerja di perusahaan dengan posisi manager, bendahara dalam sebuah yayasan milik sahabat Anda, dan punya jadwal harian ke pusat kebugaran. Gambaran ini seolah mencerminkan bahwa anda wanita super. Sempurna. Seakan tidak ada yang salah ketika Anda menilai diri sendiri.

Tapi apakah suami atau pasangan Anda beranggapan serupa? Pada kenyataanya, wanita yang bekerja di kantor memiliki kecenderungan stress yang lebih besar dari pria. Ini menggangu intensitas hubungan antara wanita dengan pria. Stress menyebabkan Anda tak mampu lagi berkonsentrasi dalam menjalankan peran lain yang Anda miliki, termasuk sebagai istri bagi suami Anda. Menurut Sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisis terkemuka di dunia, laki-laki pada dasarnya akan selalu memilih objek cinta kasihnya berdasar pada cara ibu yang tanpa pamrih melayani, merawat, dan memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini, saya bukan mau membenarkan bahwa wanita seharusnya lebih banyak berperan di rumah dan melayani suami, namun sebenarnya inilah kunci bagi Anda untuk mempertahankan hubungan dengan pasangan. Kristine Carlson dalam buku Don’t Sweat the Small Stuff for Women berkata bahwa seorang wanita perlu menelaah hidup sesuai dengan prioritas. Jangan sampai hanya karena kita ingin menjadi the superwoman, kita jutsru lupa melakukan hal-hal yang sempurna di mata pasangan. 

 

Microwave vs Kompor Listrik

Masalah yang kerap muncul pada pasangan yang telah menikah adalah menyangkut tentang seks. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa seks merupakan komponen yang penting dalam keberlangsungan suatu hubungan pernikahan. Sayangnya, secara kodrat, kebutuhan seks serta pemrosesan dorongan seksual dalam otak pria dan wanita jauh berbeda. Allan & Barbara Pease dalam buku Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps sampai memberikan istilah microwave untuk pria dan kompor listrik bagi wanita.

Ya, hal ini disebabkan bahwa dorongan seksual pada pria seperti cara kerja sebuah microwave; cepat, optimal, dan hanya membutuhkan beberapa detik saja. Sedangkan kompor listrik diasumsikan memiliki cara kerja yang lambat panas namun butuh waktu yang lama untuk mematikannya kembali. Memang tidak ada yang salah dari keduanya, tapi kalau hal ini tidak disertai dengan tingkat pemahaman dan pengertian dari kedua belah pihak, maka masalah besar dapat mengancam hubungan Anda dan pasangan.

Belum lagi jika kita mengacu pada sebuah hasil penelitian melalui bentuk grafik yang menggambarkan dorongan seksual antara pria dan wanita. Grafik seks pria cenderung normal; sedikit di awal masa puber, bertambah tinggi secara proporsional sampai mencapai puncaknya di usia 20-an, dan kemudian perlahan-lahan turun sampai mencapai titik terendah di usia 50 tahun ke atas. Sementara pada grafik seks wanita, kita akan melihat kondisi yang konstan bertambah dari usia puber sampai usia 20-an, dan tiba-tiba mengerucut di puncak pada masa usia 30-40 tahun, sebelum akhirnya mengalami masa penurunan drastis yang biasa disebut menopause pasca usia 30-an akhir.

Perbedaan yang sangat signifikan ini tak pelak memicu ketidakseimbangan sebuah pasangan dalam menyikapi kadar dorongan seksual masing-masing, terutama di masa usia 20-an yang biasanya merupakan usia awal pernikahan. Perbandingan dorongan seksual pria adalah sebanyak lebih dari 2 kali lipat si wanita. Itulah sebabnya, Anda wajib bersikap terbuka kepada pasangan masing-masing. Sampaikan keinginan dan keberatan Anda, dan belajar memahami karakter seks pasangan yang secara alamiah berbeda dengan Anda.

images

Belajar Mendengarkan

Secara naluriah, kemampuan wanita untuk berbicara lebih baik dibandingkan dengan pria. Namun dalam kasus ini, baik pria maupun wanita, harus berusaha keras untuk belajar lebih mendengar ketimbang didengarkan. Mengapa demikian?

Kebutuhan manusia untuk didengar tidak kalah dengan kebutuhannya untuk mengeluarkan pendapat dan berbicara dengan orang lain. Dalam sebuah komunikasi antara pria dan wanita, pria cenderung lemah dalam menyimak perkataan, sementara wanita lebih jeli. Menurut Allan & Barbara Pease dalam buku best-seller-nya tersebut, wanita menggunakan kedua belah otaknya ketika mendengar, sementara pria hanya memanfaatkan otak kirinya saja. Kebiasaan ini terkadang menghambat sinkronisasi dalam komunikasi antara pria dan wanita.

Jika ingin memperbaiki suatu hubungan, kedua belah pihak harus menggali hal-hal yang mungkin tidak terungkap dari dalam hati masing-masing. Sediakanlah waktu khusus untuk sharing dan mengeluarkan pikiran. Simaklah pendapat pasangan tentang diri Anda, tentang masalah-masalah kecil dalam hubungan Anda, dan berilah ruang seluas-luasnya untuknya berbicara tanpa ada interupsi dari Anda sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Dengan demikian pasangan merasa Anda menghargainya dan bukan tidak mungkin Anda menemukan solusi permasalahan yang sedang dihadapi melalui sebuah percakapan hati ke hati.

Siapkan Kejutan

Hubungan Anda dan pasangan bisa saja berada di ujung tanduk hanya karena keduanya merasa jenuh dan terjebak rutinitas yang membosankan. Anda merasa sudah terlalu mengenal pribadi pasangan setelah bertahun-tahun berpacaran, telah melakukan ritual mingguan yang dilakukan berulang-ulang, pergi ke tempat yang sudah ribuan kali Anda kunjungi bersama pasangan, sampai akhirnya Anda ataupun pasangan mulai tergoda dengan pria atau wanita lain yang seolah ‘menjanjikan’ pengalaman baru yang lebih mengasyikkan.

Jangan tinggal diam. Anda bisa menjadi pahlawan dengan memberinya kejutan-kejutan kecil yang tak terduga. Kado di luar hari ulang tahun atau peringatan penting lain pasti mampu meluluhkan hati pasangan. Kalau ada dana lebih, tidak ada salahnya Anda memesan paket wisata ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi. Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri, objek wisata di Indonesia tidak akan pernah habis menjadi alternatif pilihan yang terjangkau. Lagipula, hubungan Anda dan pasangan jauh lebih berharga ketimbang beberapa lembar rupiah, bukan?

(This article appeared in CHOICE Magazine, Feb ’09)

Aku Suka Hujan

Tak ada waktu yang lebih menyenangkan daripada ketika aku berdiri di jendela kala hari hujan. Langit gelap dan syahdu, dingin meremang di relung hatiku. Angin berhembus dengan kecepatan luar biasa seolah tengah berlomba. Siapa yang duluan mencapai samudera, dialah pemenangnya. Walaupun dalam perjalanannya mereka banyak meruntuhkan pohon-pohon ringkih tak berdaya, papan reklame yang besar di sudut-sudut jalan dan perempatan, sampai akhirnya menjadikan manusia tanpa dosa sebagai korban. Begitulah rentetan kejadian setiap kali hari hujan. Lantas mengapa aku suka hujan?

 

rain2

Selain hujan, aku suka kopi hangat yang dicampur butiran coklat. Ketika kutenggak aku merasa seperti ada aliran semangat yang meresap. Tapi buatku rasanya hanya enak jika diminum ketika hari hujan. Rintik hujan sebagai melodi yang menyayat, dan tetesan kopi sebagai penawar obat. Mereka saling melengkapi layaknya dua insani. Kalau yang satu suka mencintai maka ia harus bertemu manusia lain yang ingin dicintai. Sesuai dengan kata Ibu ketika satu sore kami duduk di teras rumah kala hujan membasah. Ia bilang mutualisme kopi dan hujan tak pernah terjadi pada dirinya dan Ayah. Itulah sebabnya si lelaki yang seharusnya kupanggil Ayah meninggalkan kami dalam kebisuan yang membuncah. Sekarang apakah kau mempertanyakan mengapa aku suka hujan?

 

Tak banyak yang bisa kuceritakan. Di satu masa pernah aku hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Aku tengah duduk di kelas lima saat bangku sekolah terpaksa kutinggalkan. Ke sana ke mari membantu Ibu menjajakan dagangan. Suatu ketika Ibu sakit. Di dompet Ibu uang kami tersisa begitu sedikit. Untuk makan layak satu hari ke depan pun agaknya masih defisit. Aku berjualan sendirian. Mencari calon pembeli yang paling tidak masih punya rasa kasihan. Panas matahari semakin menggarang. Peluh dan keringat berceceran menghias setapak demi setapak jalan. Tubuhku melemah kekurangan cairan. Saat itu aku berpikir lebih baik mati ketimbang hidup penuh kesengsaraan. Aku memohon agar hari hujan biar angin kencang membawaku terbang dan kemudian melemparkanku ke dasar jurang. Tak lama sebuah sedan mewah berhenti di tengah jalan. Ada sepasang tangan yang meraihku dan mengangkat ke dalam. Tadinya aku pikir itu Tuhan.

 

Pandanganku masih kabur saat orang itu menyentuh keningku.

“Anak ini demam tinggi. Saya heran masih ada orangtua yang tega membiarkan anaknya berjualan di jalanan. Perempuan dan sendirian, bagaimana kalau dia tiba-tiba diculik orang?!”    

Aku masih terpaku. Suara orang itu berat dan penuh marah. Seorang laki-laki. Berdasi. Seumur hidup aku tak pernah digendong oleh laki-laki. Apalagi yang berdasi.

“Pak, cepat ke rumah sakit terdekat, ya. Anak ini mengalami dehidrasi tingkat tinggi…Ia bisa mati.”

Tak lama aku merasa tubuhku hampir melayang dibopong sekelompok orang-orang. Mereka berseragam putih seperti malaikat. Sempat terpikir bahwa doaku telah dikabulkan. Aku menyesal tak sempat mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan untuk si laki-laki berdasi.

“Dokter, saya bukan orangtuanya, saya hanya tidak tega membiarkan seorang anak kecil tergeletak di tengah jalan. Tolong rawat sampai sembuh, berapapun biayanya…”

Aku belum mati, pikirku dalam hati. Ingin rasanya aku memeluk orang itu, walau hanya sekejap, tapi tubuhku kaku tak mampu bergerak. Sebotol cairan, yang belakangan baru kutahu namanya infus, sudah tergantung di kiri-kanan. Pandanganku semakin buram. Tapi telingaku tak bisa dibohongi oleh keadaan. Dari balik jendela ruang emergency, aku mendengar suara rintik yang kurindukan. Saat itu di luar turun hujan. Kini masihkah kau bertanya mengapa aku suka hujan?

 

200236712-001Delapan tahun berselang. Kehidupanku membaik, walaupun belum bisa kubilang senang. Ibu mendapat pekerjaan di pabrik sejak lima tahun yang lalu, dan aku kembali disekolahkan. Satu siang aku berjalan ke daerah elit di Jakarta Selatan. Bermaksud mencari restoran yang membutuhkan tenaga pelayan. Dengan ijazah SMU di tangan, aku mendatangi satu-persatu tempat, penuh harapan. Tapi hidup memang terkadang dapat lebih mengejutkan daripada petir yang menyambar tiba-tiba di kala hujan. Aku melihat seorang lelaki tampan. Kali ini tidak berdasi, namun suara beratnya masih terngiang jelas dalam memori. Ia melihatku sepintas. Aku menatapnya. Ada perasaan aneh yang menyusup di dada. Kutinggalkan selembar tisu lengkap dengan nomor telepon genggamku yang berharga seratus ribuan. Kuminta seorang waitress mengantarkan tisu itu, sambil menyisipkan selembar uang lima ribuan. Lalu aku buru-buru keluar agar tidak kelihatan. Saat itu dari langit mulai turun hujan.

 

Satu minggu kulalui dengan penuh harapan, namun telepon dari laki-laki itu tak kunjung datang. Aku penasaran. Esoknya aku kembali datang ke restoran. Menunggu hampir empat jam, sampai akhirnya aku terpaksa menyerah karena tak mampu lagi memesan minuman. Aku membuka pintu hendak pulang, dan tepat di detik itu dengannya aku berpapasan. Kali ini ia datang menggandeng seseorang perempuan tidak begitu muda namun sungguh menawan. Hatiku kecewa bukan kepalang. Aku menghentikan langkah, ia pun demikian karena jalannya terhadang. Kembali kutatap wajahnya yang rupawan. Yang membuat hatiku selama seminggu terakhir tak karuan. Tanpa memedulikan yang lain, aku merengkuh tubuhnya dalam pelukan.

“Masih ingat aku?” tanyaku pelan.

Ia terdiam. Menelan ludahnya, seperti menyadari sesuatu yang rasanya tak mungkin menjadi nyata.

“Kamu…?” ia terbata.

“Terima kasih atas segalanya. Terima kasih telah menyelamatkanku saat itu dan membawaku kembali ke dunia.” Aku tersenyum dengan tulus. Kulirik perempuan di sebelahnya yang kemungkinan besar adalah istrinya. Wajahnya tenang, tak ada amarah yang terlintas ketika tadi aku memeluk suaminya.

Laki-laki itu masih terpaku dalam keheningan. Lalu aku pun berlalu tanpa kemenangan. Membawa hasrat terpendam yang pada akhirnya tidak terpuaskan. Namun entah mengapa aku yakin ia masih menyimpan tisu yang kuberikan minggu lalu. Sampai detik ini, apakah kau masih bertanya mengapa aku suka hujan?

 

Karena hujan telah menyaksikan sebuah fragmen ketika aku mengenalnya. Hujan adalah takdir ketika aku kiss2rainbertemu kembali dengannya. Dan hujan adalah sebuah harapan. Harapanku yang suatu saat mungkin menjadi kenyataan terjadi jika dunianya tiba-tiba dirudung ‘hujan’ dengan makna lain. Atau saat melodi kehidupannya mendentingkan alunan refrain yang menyayat. Karena mulai hari ini, sampai waktu yang tak berbatas seperti langit, aku siap menjadi tetesan kopi hangat sebagai penawar obat.    

 

 

 

 

 

 

 

 

Larangan, 1 Desember 2008

 

Surprise!

0015-0401-0416-5229_birthday_cake_surprise_party_invitation_pictures_photos1

Malam kian larut. Hujan semakin deras mengguyur permukaan, mengaburkan pandangan Reyna yang sedari tadi terpaku ke jalan. Honda City hijau gelap keluaran 2001 melaju kencang tanpa hambatan.

 

Hanya satu-dua mobil lain yang ikut berlomba di sepanjang jalan tol Cipularang. Pukul satu empat lima, dini hari. Berarti baru empat puluh lima menit yang lalu Reyna berpisah dengan kekasihnya. Baru satu jam empat puluh lima menit yang lalu ia datang tiba-tiba ke rumah Kyran, bermaksud menjadi orang pertama yang mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’ kepada lelaki yang dipujanya.

 

“Mengapa, Kyran? Mengapa niatku untuk bikin surprise ke kamu juga harus dibalas dengan surprise yang lebih mengejutkan?”

 

Reyna keheranan ketika mendaratkan mobilnya di depan rumah Kyran. Tempat itu bukan lagi serupa sebuah rumah tua peninggalan almarhum orangtua Kyran yang dijadikan tempat tinggal seperti biasanya. Lampu kerlap-kerlip menyala bergantian dan seirama. Mengingatkan Reyn pada momen Natal atau Tahun Baru di film Love Actually kesukaannya. Hati Reyna berdesir hebat. Jangan-jangan Kyran sudah tahu rencananya untuk datang tepat pukul dua belas malam di hari jadi-nya yang ke dua puluh enam. Ah, betapa romantisnya ia, celetuk Reyna dalam hati. Kian tak sabar ia menghambur ke dalam.

 

Reyna membuka bagasi. Seperangkat stik golf baru dan mewah sudah dipersiapkan sebagai hadiah. Hasil tabungan setahun yang sangat berharga. Tapi tak apalah demi orang yang juga sangat berharga.

 

Gadis itu tampak cantik dengan terusan tanggung yang menjuntai di atas kedua lututnya. Berwarna merah rubi, kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Ia berjalan melewati jalan setapak yang berujung pada pintu kayu jati berukuran besar dua pintu. Perlahan, sayup-sayup ia mendengar suara-suara canda dan tawa. Ia baru menyadari bahwa rumah itu tidak sesunyi biasanya. Bahkan sama sekali tidak sunyi. Suara laki-laki dan perempuan bercampur menjadi satu. Nyali Reyna mendadak kecut. Ia merasa seperti tamu tak diundang. Jelas-jelas Kyran sedang mengadakan pesta, entah dengan siapa saja.

 

Reyna mengetuk pintu yang menjulang di hadapannya. Sekali, tak ada jawaban. Kali kedua ia gedor keras-keras. Nihil juga. Dengan hati bimbang Reyna menarik gagang pintu. Klik, pintu tidak terkunci. Suasana di dalam jauh lebih hangar-bingar dari yang dibayangkan Reyna sedetik lalu. Tiga pasang mata lelaki muda serentak memandangnya nanar dari ruang tamu saat ia berusaha mengendap masuk. Terlebih saat Reyna menarik satu set pelaralatan golf yang tingginya hampir mencapai pundaknya. Tetapi mereka tidak berkata apa-apa. Asyik sendiri dengan kegiatannya. Di depan mereka tersebar kertas-kertas lintingan opium serta ganja.

 

Mata Reyna terbelalak saat ia masuk ke ruang keluarga yang cukup besar. Di salah satu sofa cokelat bludru yang letaknya di pojok, sepasang kekasih sedang berciuman, bergumul, dan berciuman lagi. Tapi tunggu, eh, hei, mereka bukan sepasang lelaki dan perempuan, mereka DUA-DUAnya perempuan. Stupid, kutuk Reyna. Sejak kapan teman-teman Kyran adalah para deviant? Seorang cowok tambun berwajah setengah indo sedari tadi memperhatikan kehadirannya yang bak makhluk planet lain karena hanya Reyna yang berdandan rapi sementara yang perempuan-perempuan lain bermodalkan tank top dan para lelakinya rata-rata bertelanjang dada. Cowok itu mendekat, menaruh telapak tangan kirinya di pundak Reyna.

 

“Hi sweetie, who are you looking for?”

Reyna sontak kaget. Buru-buru menepis cengkeraman tangan lelaki gendut itu di pundaknya. “Who are you?” pekiknya keras, walau masih kalah dengan suara musik trance yang semakin menggema ke tiap sudut ruangan.

 

Lelaki itu tak menjawab, bahkan semakin mendekatkan tubuhnya. Tangannya yang besar dilingkarkan di pinggang Reyna. Wajahnya berjarak dua senti dari wajah Reyna.   

“One step closer then I’ll kill you!” teriak Reyna sambil sekuat tenaga melepaskan diri dari  tubuh lelaki yang berbau vodka. Membuat Reyna ingin muntah dan meludah ke depan muka lelaki itu secara bersamaan.

 

Ia menyeriangai dengan tatapan aneh. Tapi ia mulai mengendurkan lengannya dari pinggang Reyna.

“Wow, such a beauty lady. I will release you with one compliment; please come and join us in one session. He loves to have a that kind of session.” Ia menyeringai lagi, kali ini lebih lebar.

 

Reyna mulai menyerah. Tenaganya tak cukup untuk melepaskan diri. Tubuhnya hanya dua pertiga si lelaki tambun. Dengan lirih ia berkata, “What do you mean? What do you want from me?! I came here just to meet my boyfriend, where the hell is he??”

 

Mata lelaki itu kemudian menyipit. Dihentakkannya tubuh Reyna sembari melepaskan kedua tangannya. “I don’t understand Ma’am…, who the hell is your boyfriend? We are all gay and lesbians. You should’ve said that you were looking for a girlfriend, sweetheart.”

Hening.

Tubuh Reyna terpaku, tak mampu bergerak.

“Oh yeah, and if you decide to stay, please Ma’am. We’re gonna have a wild and fun party till dawn. Well, don’t you know that tonight we’re celebrating a birthday bash of Kyran, my lover..? Don’t forget to say him a Happy Birthday or something. He’s in upstairs with Bono. You know, we’re not that conservative…” Ia melontarkan perkataan itu dengan begitu datar. Begitu jujur. Walau kadang kejujuran memang jauh lebih menyakitkan.

 

“…only if you’re still interested.” Ujar lelaki itu sedikit menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya.

Ia pun kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Reyna yang masih mematung berdiri.

 

 

 

Larangan, 27 November 2008

 

 

 

I Am Afraid of the Light

I am afraid of the light
That soon vanished from my eyes
Left nothing but a blurry sight
With no space for a sparkle lies

I am afraid of the light
That flies me to the moon and back
Like a waterfall drop from the height
Then torn me apart into a broken pack

That’s why I love the time when it was dark
I just ought to sit alone in the park
Blissfully gaze for the sunshine to come
As they get me rear from the numb

To Where I Belong

Another summer day
has come and gone away
In Paris and Rome
but I wanna go home

~ Home (Michael Bubble)

 

It’s not trouble-free when I need to deal with fact

That I’m trapped in a relentless track

And still not find how to get my life back

 

I’m tasteless, clueless

Like a half-dead man longing for caress

They may say I’m jealous

I say “no, dear, it’s none of your business”

 

Don’t you ever say that God is unfair

We got this unbeatable love to live

He may not grant us the flair

But we hold the most precious gift that He could give

 

It’s you

It’s your embrace with the heaven inside

It’s your smile that keeps me alive

It’s your arms that carry out my life

 

I don’t need to go to Paris or Rome

It’s just your heart where I belong

 

Sepenggal Kisah Tentang Naira

                                                                                                 

9 Februari 2003, 21.45 WIB

            “Dokter, mengapa denyut jantung anak saya terus melemah?”  Sebuah pertanyaan bernada khawatir meluncur dari mulut seorang ibu dan memecah kesunyian di sebuah ruangan ICU.  Di hadapan wanita separuh baya itu terbaring Naira, gadis yang sedang sekarat, berjuang melawan penyakit jantungnya.  Ruangan dengan nuansa serba putih sama sekali tidak menenangkan hati ibu Naira saat ini.

            Dokter dengan dibantu beberapa perawat melakukan shock therapy kepada Naira.  Shock therapy kedua dalam hari ini, saat Naira dilarikan ke rumah sakit dari sekolahnya.

            Cukup dua kali dilakukan, denyut jantung Naira kembali seperti semula.  Sedikit menguat.

            “Sudah, Bu, jangan khawatir.  Naira akan baik-baik saja selama ia tidak mengalami hipoksia*.  Sebaiknya ibu pulang, sudah malam.  Biarkan anak ibu beristirahat dengan tenang malam ini.”

            Ibu Naira pun pulang meninggalkannya.  Supaya gadis itu tidur dengan nyenyak.  Dan membiarkan Naira tenggelam dalam putaran waktu, dalam halusinasi serta mimpi-mimpinya.

 

15 Juli 2001, 10.30 WIB

            Are those your eyes?  Is that your smile?

            I’ve been looking at you forever but I never saw you before…

            For  the first time, I am looking in your eyes

            I can’t believe how much I see…When you’re looking back at me

            Now I understand what love is…love is…for the first time

            (For The First Time – Kenny Loggins)

             Naira menyapukan pandangan ke sekelilingnya.  Tahun ajaran baru, sekolah baru.  Naira begitu antusias karena kini ia sudah duduk di bangku SMU.  Semua petuah ibu dan ayahnya masih ia ingat dan simpan dalam kepalanya.  Jangan salah pergaulan, jangan ikut-ikutan pakai narkoba, jangan bolos, jangan pacaran dulu…dan sebagainya.  Mungkin bagi sebagian besar teman Naira, peringatan yang terakhir terasa sangat berat.  Pacaran untuk remaja seusia Naira adalah hal yang sangat wajar.  Dan memang kenyataannya banyak teman-teman Naira yang sudah melakukannya. 

            Tapi semua itu tidak berlaku bagi Naira.  Gadis itu masih terlalu polos.  Terlalu lugu.  Ia sama sekali tidak punya niat untuk melakukannya.  Dengan teman cowok saja ia bergaul dengan begitu canggungnya.  Bagaimana mau pacaran? 

            Namun pada hari pertama di tahun ajaran baru itu, semuanya seakan berbeda dari hari-hari biasanya.  Sejak Naira melihat seorang cowok di kelas itu, yang tidak lain adalah calon teman sekelasnya sendiri.  Waktu Naira melihat cowok itu, ada getaran aneh yang menyusup dalam hatinya.  Walaupun cowok itu tidak terlalu tampan…tapi ia mampu meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi Naira.  Love at the first sight mungkin.  Seperti yang sering Naira baca di buku-buku roman dan lihat di film-film drama.  Tidak dipungkiri lagi, gadis itu jatuh cinta untuk yang pertama kali dalam hidupnya.

 

28 Juli 2001, 06.30 WIB

            Everyone can see…there’s a change in me

            They all say I’m not the same kid I used to be

            It’s my first love…

            What I’m dreaming of, when I go to bed

            Wish that I could show him what I’m feeling

            ‘Cause I’m feeling my first love

(First Love – Various Artist)

            “Naira, udah bikin pe-er matematika belum?”  Sebuah suara bertanya padanya.

            Suara itu suara Adri.  Cowok yang sampai pagi ini masih membuat degup jantungnya berakselerasi dari detik ke detik. 

            “Eh, Adri…Udah, pe-er matematikanya udah selesai aku kerjain di rumah.   Kamu udah?  Mau liat punyaku?”  Jawab Naira ramah sambil menyodorkan buku matematikanya. 

            Naira bersyukur berada di kelas yang sama dengan Adri.  Setidaknya, ia bisa berlama-lama menatap cowok itu.  Sekalipun tempat duduknya berada di pojok paling depan kanan dekat meja guru, sehingga matanya harus melintasi panjang diagonal kelas kalau ingin melihat Adri yang duduk di pojok kiri paling belakang.

             Tapi Naira tidak peduli, walaupun toh ia cuma dapat melihat cowok itu dari kejauhan.  Walaupun pada kenyataannya Adri sama sekali tidak tahu- menahu perasaan Naira yang sesungguhnya.  Mengobrol sebentar sesekali dengan Adri sudah cukup bagi Naira, walaupun itu hanya sebatas tentang pe-er, atau ujian pada hari itu.  Beruntung bagi Naira, karena Adri adalah cowok yang peduli dengan sekolah, sekalipun ia cowok yang gaul dan supel.  Singkatnya, Naira menjadi lebih bersemangat pergi ke sekolah dalam dua minggu belakangan ini.  Ibunya pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Naira yang sekarang lebih sering mengunci diri di kamar dan memutar lagu-lagu ballad bertemakan cinta.

 

10 Februari 2003, 15.30 WIB 

            “Maaf, Bu.  Dengan berat hati saya harus memberitahukan hal ini.  Anak ibu ada dalam kondisi kritis, bahkan satu jam yang lalu detak jantungnya sempat berhenti.  Beruntung kami dapat secepatnya melakukan cardiopulmonary resuscitation** pada Naira.”  Jelas dokter itu panjang lebar di depan ruang ICU.

            Sambil duduk di sebuah bangku panjang, ibu Naira masih menangis dalam rangkulan ayah Naira.

            “Sudahlah, Bu.  Hidup mati seseorang Tuhan yang menentukan.  Sekarang kita cuma bisa tawakal dan berdoa demi kesembuhan Naira.”

            Sementara itu di dalam ruang ICU, Naira masih terbaring tanpa daya.  Gadis itu hanya ditemani seorang dokter, dua orang perawat, serta selang-selang yang terjulur dari botol infusnya.  Dan Naira masih berkelana dalam dunia lain, ingatan berupa kepingan seperti puzzle yang tersusun dalam cerebral cortex***-nya.

 

14 September 2001

            I used to see in black and white, never something in between

            Waiting on the love of my life, to come into my dreams

            You…you put the blue back in the sky

            You put the rainbow in my eyes

            The silver lining in my prayers

            And now there is  colour everywhere

(Colour Everywhere – Deana Carter)

            Naira sama sekali tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi padanya.  Hubungannya dengan Adri semakin dekat.  Mereka selalu menghabiskan waktu bersama-sama di sekolah.  Di kelas, di kantin, sampai di lapangan parkir sekolah seraya menunggu supir Naira datang menjemput.  Hidup Naira berubah 180 derajat.  Hari-harinya terasa begitu berbunga-bunga.  Sesekali Adri menelepon Naira untuk mengobrol.  Mereka merasa memiliki kecocokan satu sama lain.

             Sampai suatu saat, semua teman-teman Naira menyangka bahwa ia telah berpacaran dengan Adri.  Naira merasa risih, dan takut kalau-kalau berita itu sampai ke telinga orangtuanya.  Padahal itu semua tidak benar.  Naira pun sebenarnya tidak tahu bagaimana perasaan Adri terhadapnya.  Yang ia tahu hanya bahwa ia cukup dekat dengan Adri.  Hanya itu.

            “Naira, pulang sekolah nanti kita jalan yuk!”  Ajak Adri saat mereka makan bersama di kantin sekolah.

            Naira terdiam.  Di satu sisi ia ingin sekali menerima ajakan Adri.  Tapi di sisi lain ia tahu bahwa setelah mereka pergi berdua maka teman-temannya akan lebih yakin menyangka mereka sudah berpacaran.  Apa jadinya kalau ayah dan ibu sampai mendengar hal ini?  Batin Naira bingung bukan main.

            “Hmmm…gimana ya?”  Jawab Naira.  Ragu.

            “Kenapa gimana?  Aku ‘kan pengen traktir kamu makan atau nonton sekali-sekali.  Masa’ kamu ‘gak mau?”  Adri semakin mendesaknya.

            Akhirnya Naira mengangguk.  “Eeh..iya deh.  Aku mau.”  Ujarnya sambil tersenyum.

            Adri mengacak-ngacak rambutnya.  “Sip kalau gitu!  Nanti setelah bel pulang, kamu tunggu aku di depan gerbang ya.  Aku ada urusan sebentar ke ruang BP.”

            Naira mengangguk untuk yang kedua kalinya.  Senyumnya makin lebar.  Ia berusaha menutupi kegalauan hatinya.  Tiba-tiba ia tersadar.  “Bagaimana mungkin aku pergi dengan Adri?  Aku ‘kan sudah janji sama ibu untuk menemaninya ke supermarket?  Apa-apaan kamu ini, Naira?”  Suara hati Naira menolak mentah-mentah.  Dan akhirnya siang itu Naira pulang seperti biasa ke rumah dengan supirnya.  Ia tidak menepati janjinya pada Adri.  Ia tidak menunggu Adri di depan gerbang sekolah.

21 September 2001, 10.00 WIB

            Bel istirahat menimbulkan euforia yang luar biasa.  Tapi tidak untuk Naira.  Ia merasa malas untuk beranjak ke kantin.  Adri tidak masuk sekolah hari ini.  Dan sebenarnya Naira pun tidak peduli, karena sejak kejadian seminggu yang lalu Adri marah, dan mereka sama sekali tidak berkomunikasi sampai detik ini.  Namun di lubuk hati Naira yang paling dalam, ia cemas memikirkan Adri. 

            “Ke mana gerangan cowok itu?  Apa ia sakit?”  Otak Naira bertanya-tanya. 

            Dengan masih bermalas-malasan, Naira memutuskan untuk pergi ke ruang kesenian, ruang yang dipakai untuk membuat mading sekolah.  Naira termasuk bagian dari tim mading sekolah, sebagai penulis cerpen atau artikel lepas.

            Ketika Naira sedang berjalan ke ruang kesenian, Naira mendengar sayup-sayup anak-anak lain yang sedang mengobrol dan bergosip di depan kelas-kelas yang ia lewati.

            “Ssstt…tau ‘gak?  Denger-denger si Adri baru aja jadian sama Vinta, lho!”

            “Hah, masa’ sih?  Bukannya Adri deketnya sama cewek kelas 1-D juga?  Itu tuuh…yang rambutnya pendek di atas bahu.”

            “Tau tuh…katanya sih…Adri dari SMP emang playboy!”

            “Trus, lo tau darimana dia jadian sama Vinta?  Gosip aja kali.”

            Naira seakan terpaku di tempatnya.  Ia ingin kabur secepatnya dari tempat itu, tapi hatinya memaksa untuk terus berada di situ, supaya mendengarkan percakapan anak-anak itu. 

            “Bener kok!  Kemarin gue ketemu sama mereka di Plaza Senayan.  Trus pas gue tanya, mereka ngaku kalau baru jadian.”

            “Sumpah, lo?”

            Swear1”

            Secepat kilat Naira meninggalkan tempat itu.  Ia membatalkan niatnya ke ruang kesenian.  Gadis itu berjalan ke arah ruang piket, pura-pura sakit, dan minta surat izin untuk pulang.  Seluruh tubuhnya lemas, ia ingin menangis sejadi-jadinya di kamar.  Naira tidak menyangka bahwa akhirnya akan sesakit ini.  Bahwa ia harus menerima kegagalan cinta pertamanya.

            Don’t say you love me…unless forever

            Don’t tell me you need me…if you’re not gonna stay

            Don’t give me this feeling I only believe it

            Make it real…or take it all away…

(Don’t Say You Love Me – The Corrs)

 

12 Februari 2003, 05.30 WIB

            Naira terbangun dari tidurnya.  Tubuhnya terasa hangat.  Ada seseorang yang menggenggam jari-jemarinya.  Rico.  Rico yang sedang menggenggam tangannya.

            “Kamu selamat.  Kamu masih disayang Tuhan.”  Sahut Rico pelan pada Naira. 

            Cowok itu yang menungguinya sejak tadi malam.  Rico, cowok yang jadian dengan Naira sejak sebulan yang lalu.  Cowok pertama yang mengisi hidupnya sejak ia dapat melupakan sakit hatinya pada Adri.

            Naira tersenyum.  Ia telah berhasil melewati masa kritisnya.  Sejarah kedua dalam hidupnya, setelah ia berjuang melewati pahit cinta pertamanya.  Kini ia telah larut dalam cinta yang baru, yang menggantikan semuanya.  Naira siap mencurahkan segala cintanya untuk Rico, dan menganggap kejadian dengan Adri hanya sebagai sepenggal kenangan dalam hidupnya.

            “Kalau kamu sendiri, gimana?”  Tanya Naira sambil mengerlingkan sebelah matanya.  Rico cuma tersenyum dan memeluknya.  Hidup Naira menjadi lengkap karena cinta Rico.  Karena cinta itu benar-benar nyata.  Bukan sekedar angan-angan seperti dulu.

            Make it real…, or take it all away…

 

***

 

Catatan:           

*  : Defisiensi oksigen dalam jaringan tubuh

**  ; Prosedur emergensi untuk bantuan hidup, terdiri dari nafas buatan dan pijat jantung manual

***: Lapisan luar otak besar yang berlipat-lipat yang menyangkut persepsi, ingatan, pikiran, dll.

 

 

Jakarta, 12 Agustus 2003

Euro dan Identitas Britania Raya

Eropa, Contoh Kemajuan Sebuah Benua   

Ditinjau dari sejarahnya, Benua Eropa dapat dikatakan sebagai benua yang paling maju dalam berbagai segi kehidupan. Betapa tidak, mengingat para pelaut berkebangsaan Eropa, terutama Portugis dan Spanyol, merintis penjelajahan dan ekspedisi ke wilayah bagian dunia yang lain pada abad ke-15. Belum lagi gagasan Inggris mengenai konsep hak asasi manusia yang tertuang untuk pertama kalinya lewat piagam Magna Charta pada dua abad sebelumnya. Ditambah dengan keberanian rakyat Perancis mengobarkan slogan “Liberte, Egalite, Fraternite” dalam menentang perlakuan sewenang-wenang Raja Louis ke-16 yang pada akhirnya berhasil meletuskan Revolusi Perancis di tahun 1789. Kesemuanya dilengkapi pula dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa yang ditandai dengan lahirnya Revolusi Industri.

Pantas rasanya jika rakyat Eropa berbangga hati atas pencapaian-pencapaian di masa lampau tersebut. Pencapaian-pencapaian tersebut jelas mengindikasikan betapa maju dan hebatnya orang-orang Eropa, baik dari segi peradaban, ide/gagasan, sampai berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tokoh-tokoh penting yang menyumbang prinsip-prinsip dalam ilmu pengetahuan banyak yang lahir dari benua ini. Sebut saja Adam Smith, Montesquieu, J.J. Rosseau, dan James Watt. Kebanggaan yang terbentuk tersebut membuat negara-negara Eropa menjadi merasa superior. Eropa memang sempat hancur, mengalami suatu depresi besar-besaran (great depression) selepas Perang Dunia II berakhir. Mereka seolah menjadi negara-negara “satelit” Amerika Serikat (AS) akibat menerima uluran tangan AS lewat Marshall Plan yang dikoordinir AS demi menjalankan containment policy-nya. Akan tetapi kemajuan ekonomi di Eropa sangat pesat adanya dalam kurang lebih setengah abad terakhir ini. Menjadikan Eropa sebagai salah satu kekuatan dunia yang mampu dan layak mengimbangi hegemoni unipolar AS yang terbentuk pada masa pasca Perang Dingin. Apalagi sejak negara-negara di benua tersebut sepakat membentuk kerjasama diantara mereka yang dinamakan dengan Uni Eropa.

 

Lahirnya Uni Eropa Sebagai Organisasi Supranasional

            Lewat serangkaian perundingan dan transformasi yang cukup signifikan dari waktu ke waktu, maka terbentuklah sebuah organisasi yang bernama Uni Eropa (European Union) pada bulan Januari 1958, dengan anggota awal sebanyak 15 negara.[1] Adapun tujuan dari pembentukan Uni Eropa tersebut adalah untuk memudahkan kerjasama ekonomi dan peningkatan kemakmuran bagi para anggotanya. Uni Eropa telah banyak berkembang sejak awal berdirinya, mulai dengan menciptakan pasar bersama antara negara-negara Eropa, sampai akhirnya berujung pada penyatuan mata uang bersama (single currency) sebagai suatu langkah dalam mewujudkan integrasi ekonomi di Eropa. Lewat pertemuan komisi Eropa  di Brussel pada tanggal 26 Maret 1998, terciptalah sebuah kesepakatan mengenai mata uang bersama, Euro, yang disahkan pada KTT Uni Eropa pada 2 Mei di tahun yang sama. Dalam KTT tersebut, Economic & Monetary Union (EMU) selaku badan yang bertanggung jawab atas penyatuan moneter di Eropa menyatakan bahwa Euro mulai diberlakukan sejak 1 Januari 1999. Kesepakatan mengenai penyatuan moneter Eropa tidak terbentuk dalam sehari dua hari, melainkan sudah sejak lama dan memakan waktu lebih dari satu dasawarsa. Dalam kurun waktu tersebut, EMU telah melakukan tiga macam tahapan, yang diakhiri dengan Perjanjian Maastricht pada bulan Desember 1991. Dalam perjanjian tersebut, sebanyak 12 negara anggota menyepakati perlunya satu mata uang tunggal dengan tujuan menjamin stabilitas ekonomi kawasan yang diharapkan akan mendukung peningkatan kemakmuran negara anggotanya.[2]  

            Akan tetapi rupanya tidak semua negara Uni Eropa yang menyatakan setuju terhadap penyatuan mata uang ini. Adalah Inggris, Swedia, dan Finlandia yang secara tegas dan terang-terangan menolak Euro, walaupun sebenarnya ketiga negara itu memenuhi syarat sebagai negara pengadopsi mata uang tersebut. Adapun syarat sebuah negara untuk mengadopsi mata uang Euro antara lain: suku bunga tidak lebih tinggi 2% dari tiga negara terbaik dan inflasi yang tidak boleh lebih tinggi 1,5% dari tiga negara terbaik.[3] Penolakan tiga negara yang secara ekonomi sudah maju tersebut tidak dinyana lagi menimbulkan berbagai pertanyaan. Alasan utama mereka sebenarnya terletak pada alasan voluntaristik, di mana mereka tidak mau melepas mata uang asli yang telah mereka gunakan sejak dulu. Namun diantara ketiga negara itu, Inggris dapat dikatakan sebagai negara yang paling berpolemik kondisi domestiknya dalam menyatakan persetujuan atas Euro. Hal inilah yang akan dibahas kemudian dalam tulisan ini, dengan menggunakan komponen-komponen analisis mikro seperti core value, vital interest, penggerak perilaku aktor, nasionalisme, dan sebagainya. Analisa tersebut digunakan karena mengingat betapa berpengaruhnya situasi dalam negeri Inggris terhadap penolakan negara tersebut terhadap Euro.

 

Penolakan Inggris Terhadap Euro

Menarik jika kita mencoba untuk menggeledah faktor-faktor apa yang melandasi sikap antipati Inggris terhadap Euro. Jika dilihat dari sudut ekonomi, Euro dapat menjadi manuver yang baik dalam mencapai integrasi ekonomi di Eropa, yang mana secara otomatis akan menguntungkan negara-negara Uni Eropa sebagai pengguna mata uang tersebut. Akan tetapi Inggris rupanya tidak berpikir demikian.  Banyak, bahkan sangat banyak hal yang menjadi alasan Inggris dalam menolak Euro. Yang pertama, berangkat dari alasan geografis. Inggris sebagai negara kepulauan di Eropa, atau yang lebih dikenal dengan Eropa kepulauan merasa bahwa mereka berbeda dengan negara lain yang mayoritas merupakan negara Eropa daratan. Selat Dover yang memisahkan Inggris dari daratan Eropa bagian barat telah menanamkan offshore mentality, sebuah mental yang membedakan mereka dengan negara-negara Eropa daratan lainnya. Walaupun sejak pembangunan Channel Tunnel mental tersebut sudah mulai berusaha untuk dihilangkan, akan tetapi masih ada alasan kedua, yaitu alasan historis. Identitas Inggris yang sebenarnya sudah superior terus menguat akibat hasil dari Perang Dunia II. Karena setelah perang tersebut berakhir, Inggris tercatat sebagai negara pemenang perang diantara negara-negara Benua Eropa lainnya.[4] Faktanya pula, Inggris tidak mengalami kerusakan berat yang ditimbulkan dari perang tersebut. Ditambah dengan kenyataan bahwa Inggris tidak pernah diduduki negara lain selama perang berlangsung. Kesemuanya membuat Inggris tidak merasa terdegradasi dan tidak membutuhkan sebuah organisasi supranasional, apalagi dengan kewajiban menyerahkan kedaulatan negaranya pada Uni Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa core value Inggris, mempertahankan kedaulatan negara yang selama ini dijunjung tinggi sebagai sebuah negara yang besar, menyumbang peran yang cukup besar dalam penolakannya terhadap penyatuan moneter Eropa. 

Pada hakekatnya, core value merupakan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan harus dipertahankan. Inggris meyakini bahwa mereka adalah bangsa besar yang memiliki kedaulatan dan harga diri yang terlalu tinggi untuk diserahkan begitu saja pada sebuah organisasi supranasional. Mereka berpikir bahwa tidak pantas rasanya jika sebuah bangsa sebesar mereka yang memiliki latar belakang sejarah yang sangat gemilang harus tunduk pada aturan yang otoritasnya lebih tinggi daripada mereka. Dengan demikian, berdasarkan pada core value tersebut, Inggris memiliki vital interest yang muncul sebagai reaksi dari gagasan mengenai pembentukan Euro. Vital interest merupakan kepentingan yang paling penting pada suatu waktu, yang merupakan modifikasi dan perkembangan core value sebuah negara yang telah ditanamkan sejak lama. Vital interest suatu negara dapat berubah-ubah. Kebetulan, kepentingan Inggris pada saat ini adalah menentang bergabung dalam penyatuan moneter Eropa, yang dapat dilihat sebagai perpanjangan dan refleksi dari core value-nya tersebut.

Namun bukan berarti semua faktor yang menyebabkan Inggris menolak Euro berasal murni dari core value dan vital interest saja. Dalam sebuah analisis mikro, faktor kepentingan negara secara umum memang menentukan. Tapi, akan lebih jelas lagi jika kita melihat kepada aktor yang memegang peranan kunci dalam negara tersebut. Pada kasus ini, Tony Blair selaku Perdana Menteri (PM) Inggris memang patut menjadi sorotan utama. Blair yang berasal dari Partai Buruh memegang kekuasaan di Inggris sejak Mei 1997. Pada awal kekuasaannya, Blair mengajukan tiga macam opsi bagi Inggris; keluar dari Uni Eropa, tetap tinggal walaupun berdiri sebagai “negara pinggiran”, atau terus bersama Eropa sebagai pemimpin. Sebenarnya, sikap Blair tidak terlalu skeptis terhadap Eropa. Ia lebih tolerable dibandingkan pendahulu-pendahulunya seperti John Major. Blair bukan tidak setuju atas penyatuan moneter Eropa. Akan tetapi ia pun memiliki prinsip, yaitu bahwa ia menginginkan integrasi Eropa tidak meleburkan identitas nasional masing-masing anggota dan menghindari agar tidak terjadi pembentukan negara raksasa tidak terkendali yang diatur dari pusat.[5]

Ketidakikutsertaan Inggris dalam penyatuan moneter Eropa bukan semata hanya karena faktor Blair sebagai penentu kebijakan. Ada beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai penggerak perilaku aktor yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan seorang aktor.  Salah satunya adalah peran media di Inggris. Fungsi dari media tersebut adalah menghimpun berbagai pendapat dan kemauan rakyat Inggris, terutama dalam merangkum opini publik. Signifikansi dari opini publik adalah sebagai sebuah sumber informasi bagi pemerintah dalam pembuatan kebijakan, yang juga merupakan aktualisasi peran politik masyarakat. Kenyataannya, opini publik di Inggris ternyata lebih condong menolak keberadaan Euro. Hal ini dapat dilihat dari hasil survey yang dilakukan oleh The Guardian, bahwa sebanyak 55% rakyat Inggris bersikap antipati dengan menolak Euro, dan hanya 28% saja yang akan bersikap setuju jika pemerintah Inggris mengadakan referendum. Sisanya, sebanyak 17%, belum memutuskan apakah bersikap setuju atau tidak.[6]

Selain opini publik, peran politik terhadap faktor domestik dapat disalurkan pula melalui pressure group, power cluster, dan juga partai politik. Komponen yang terakhir bahkan merupakan yang paling penting karena kedudukannya sangat menentukan dalam hierarki pengambilan keputusan.[7] Bukan rahasia umum lagi jika perdebatan mengenai sikap skeptis di Inggris selalu berkaitan dengan partai politik yang paling menentukan; Partai Buruh dan Partai Konservatif. Kedua partai ini sejak dulu memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain. Sejak akhir dekade 80-an, Margaret Thatcher memegang kursi Perdana Menteri di Inggris. Thatcher berasal dari Partai Konservatif yang memiliki kerangka pikiran Eurosceptic yang sangat tinggi. Mereka membanggakan Inggris sebagai the one and only, dan merupakan suatu bagian terpisah dan khusus yang paling ekslusif di Eropa. Menurut mereka, Inggris tidak pantas tunduk pada sebuah peraturan Eropa, karena Inggris sejak dulu merupakan sebuah negara yang membanggakan, dan mereka juga secara terang-terangan menunjukkan rasa etnosentrismenya.

Kepemimpinan Thatcher dilanjutkan oleh penerusnya, yaitu John Major yang sama-sama memiliki paham Euroscepticism, sehingga pandangan dan sikap Inggris terhadap penyatuan moneter Eropa tak berubah. Inggris tetap menolak adanya mata uang bersama. Untungnya, Major sedikit lebih lunak dibandingkan Thatcher. Major dengan sukarela mewujudkan upaya baru, yaitu pembangunan pembaruan Uni Eropa, namun tetap dengan menempatkan Inggris sebagai place at the heart of Europe. Selain karena faktor etnosentrisme yang tinggi, partai tersebut juga mengemukakan alasan-alasan lain. Salah satunya dapat kita simak dari pendapat dari salah satu wakil dari partai itu. Menurut apa yang telah dikemukakan oleh Iain Duncan Smith, pemimpin Partai Konservatif sekarang yang merupakan tokoh senior dari partai tersebut, lucu rasanya jika suatu kondisi dalam satu negara disamakan perlakuannya dengan negara lain, yang jelas-jelas memiliki situasi yang berbeda.[8] Maksudnya, perlakuan yang diterapkan Uni Eropa terhadap satu negara tidak bisa dilakukan pula kepada negara-negara Eropa lainnya.

Paham Euroscepticism yang telah tumbuh dan berkembang di sebagian kepala orang-orang Inggris ternyata banyak menimbulkan perdebatan-perdebatan dalam keputusan Inggris secara keseluruhan. Euroscepticism, merupakan paham yang menolak dengan tegas segala bentuk integrasi Eropa, karena memiliki pengaruh dan keterkaitan yang erat dengan kedaulatan negara.[9] Paham ini lebih lebih banyak dimiliki oleh masyarakat di utara Eropa, seperti Swedia, Finlandia, Denmark, termasuk Inggris.

Selain karena alasan paham itu, Inggris juga memiliki alasan yang jelas dalam mempertahankan keberadaan dan penggunaan Pound sebagai mata uangnya, yaitu alasan kedaulatan. Dalam hal ini, Inggris begitu sensitif. Bagi Partai Konservatif, alasan utama mereka menolak Euro tidak disangsikan lagi adalah karena alasan kedaulatan, yang dikhawatirkan akan menurun intensitas dan kekuatannya jika mata uang Euro berhasil menggeser posisi Pound. Pound sendiri telah memiliki posisi yang sangat kuat dari mata uang lainnya. Terbukti dengan nilainya yang masih melebihi dolar Amerika sekalipun. Dengan demikian Euro ditolak mentah-mentah oleh Partai Konservatif, bahkan mereka tidak setuju dengan adanya referendum bagi rakyat Inggris mengenai keputusan dan kepastian bergabung  menggunakan Euro.

Hal ini berbeda dengan sikap Partai Buruh. Partai yang menguasai Inggris sejak pada 3 Mei 1997 Tony Blair diangkat menjadi Perdana Menteri ini lama-kelamaan kini menjadi pro-Euro. Blair memberikan referendum bagi rakyat Inggris untuk menentukan pilihannya dan mencari suara terbanyak, asalkan referendum itu memenuhi 3 syarat, yaitu: kabinet harus menyepakati Euro, menyetujui penggunaan mata uang Euro, dan menyerahkan keputusan final di tangan rakyat.[10] Partai buruh juga membuat syarat-syarat khususnya bagi EMU. Syarat-syarat tersebut disusun dalam five key tests yang keseluruhannya mencakup pembuktian dan kompetensi sejauh mana Euro dapat berperan bagi kemajuan bagi kemajuan Inggris.[11] Isinya antara lain bahwa EMU harus dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan mata pencaharian di Inggris, mendemostrasikan kapasitasnya dalam meng-handle perubahan ekonomi, dan meningkatkan kompatibilitas lingkaran bisnis dan struktur ekonomi antara Inggris dengan negara-negara lain di Eropa. Selain itu, EMU juga harus menciptakan kondisi yang lebih baik pada perusahaan-perusahaan dalam melakukan investasi. 

Dapat dikatakan bahwa bergabungnya Inggris ke zona Euro akan tergantung pada kompetensi Euro itu sendiri dalam menciptakan kondisi ekonomi Inggris yang lebih baik. Hal itulah yang akan digambarkan dalam hasil referendum yang dibuat oleh Blair itu nantinya. Dengan demikian, faktor role dari seorang Perdana Menteri yang memegang kekuasaan di Inggris juga ikut berpengaruh pada keputusan negara tersebut. Namun sepertinya harapan itu tidak akan begitu saja berjalan dengan mulus. Lagi-lagi kita perlu membahasnya dalam kerangka teori analisis mikro. Setelah tadi diutarakan bagaimana core value, vital interest, penggerak perilaku aktor, role, dan etnosentrisme sebuah negara dapat mempengaruhi tindakan dan kebijakan yang dibuat atas nama negara, kita dapat pula menemukan unsur-unsur analisis mikro yang lain dalam sikap Eurosceptic Inggris yang dituangkan dalam penolakan terhadap Euro tersebut.

Yang pertama adalah faktor self-sufficiency. Selama ini Inggris merasa sudah hidup berkecukupan dan telah menjadi sebuah negara yang matang, sehingga seperti yang telah dijelaskan di atas, Inggris sama sekali tidak membutuhkan organisasi ataupun badan supranasional yang bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran negara-negara anggotanya. Tidak ada yang perlu diperbaiki dalam kondisi Inggris secara garis besar, mengngat ekonomi mereka yang sudah mapan, dengan mata uang Pound yang berdiri tegak menjulang di atas semua mata uang lainnya.

Kalaupun ada satu kekurangan Inggris adalah karena sikap rakyatnya yang begitu mengagung-agungkan bangsa Albion tersebut. Namun itupun menjadi bukti bagaimana nasionalisme Inggris yang begitu kuat memancar dan mempengaruhi sikap mereka dalam mengambil sikap terhadap Euro. Nasionalisme yang mengarah ke chauvinisme tersebut bisa kita lihat dengan jelas dari tindakan para hooligans Inggris yang kadang bersikap tidak logis ketika mendukung kesebelasan The Three Lions dalam sebuah pertandingan sepakbola. Jika timnya kalah, maka para hooligans tersebut akan mengamuk. Begitu pula yang mungkin akan terjadi jika pemerintah Inggris bersikukuh mengeluarkan keputusan untuk menggunakan mata uang Euro. Bukan tidak mungkin rakyat yang sebagian besar memang menentang masuknya Inggris dalam EMU tersebut juga mengeluarkan aksi serupa dalam mengekspresikan sikap kontranya dalam sebuah amukan pula.   

            Hal ketiga yang dapat kita lihat di sini adalah mengenai kekuatan nasional Inggris. Kita harus mengakui bahwa Inggris tidak hanya kuat dari segi ekonomi, akan tetapi juga mencakup segi militer. Contoh konkret dapat kita lihat adalah dari kemenangan Inggris dalam Perang Dunia. Lalu kita juga bisa melihat bagaimana berani dan gencarnya Inggris melawan terorisme internasional, walaupun kontravensi seputar masalah Inggris mendukung penyerangan AS ke Irak banyak menimbulkan kecaman bagi Inggris. Dan satu lagi, kita juga harus menarik salah satu fakta sejarah, di mana Inggris telah begitu berpengalaman dalam menghadapi konflik-konflik etnis yang kerap terjadi di negara-negara bagian Inggris yang tercakup dalam United Kingdom itu.

 

            Namun sepertinya ada sesuatu hal yang masih mengganjal di benak pikiran para pembuat keputusan, khususnya pemimpin Inggris, Tony Blair. Di satu sisi, Inggris memang tidak memerlukan mata uang bersama tersebut, karena justru dampak langsungnya akan mengakibatkan melemahnya posisi Inggris terhadap negara-negara lain di Eropa. Tapi mengapa Blair masih mengupayakan sebuah referendum untuk mencari kepastian reaksi rakyat Inggris dalam menentukan keputusan masih dapat dipertanyakan. Di sini kita harus menyadari, bahwa sebesar-besarnya sebuah negara, ia tetap memerlukan kerjasama dan hubungan yang baik dengan negara-negara lainnya. Sebut saja bahwa Inggris memang akan selalu dirangkul dan mendapat dukungan dari AS dalam percaturan politik dunia. Akan tetapi, siapa yang bisa menjamin bahwa Inggris akan mampu bertahan selama-lamanya tanpa dukungan dari negara-negara Eropa lainnya yang notabene merupakan negara-negara tetangga yang telah bersama-sama dalam menjalani naik turunnya stabilitas dunia? Mengingat hal ini, tentu saja, Inggris juga mempertimbangkan faktor interdependence dalam setiap langkah pengambilan keputusannya. Jangan sampai kebanggaan Inggris yang setinggi langit akan kehebatan bangsanya dari masa ke masa hanya akan menjadi bumerang bagi Inggris sendiri di masa yang akan datang.  

 

 

Source:

Buku & Jurnal

 

š   Economic and Monetary Union. Brussel: Official Published of the EC. 1996

š   EMU Update: Policies, Politics, Business Views and Prospects, EC Policies. Mission of the Republic of Indonesia to the European Communities. 1996

š   Mandelson, Peter & Roger Liddle. The Blair Revolution: Can New Labour Deliver?. London: Fabber & Faber Ltd. 1996

š   Frankel, Joseph. The Making of Foreign Policy: An Analysis of Decision Making. London: Oxford University Press. 1968

 

Internet:

 

¯     Mengkaji Peluang Pasar Internasional Melalui Kinerja Ekonomi Negara-Negara Uni Eropa, dalam http://puslit.petra.ac.id/journals/management/managemen-05-01-03-1.htm

¯     The Moment of British Nationalism, dalam http://www.britishcouncil.org/studies/england/report_5.htm

¯     The Guardian Poll, dalam http://www.icmresearch.co.uk/reviews/2002/guardian-poll-nov-2002.htm

¯     Cathy Newman, UK and Euro Political Debate: Tories Rule Out Euro ‘Stunts’, dalam http://specials.ft.com/euro/FT3CEBCDIVC.html

¯     Euroscepticism, dalam http://en2.wikipedia.org/wiki/Euro-sceptic

¯     The Parties and The Single Currency, dalam http://news.bbc.co.uk/1/hi/events/the_launch_of_emu/the_uk_and_emu/229650.stm

 

 

 

 

 


[1] Mengkaji Peluang Pasar Internasional Melalui Kinerja Ekonomi Negara-Negara Uni Eropa, dalam http://puslit.petra.ac.id/journals/management/managemen-05-01-03-1.htm, diakses pada tanggal 4 Desember 2003, pkl. 14.59 WIB

[2] Economic and Monetary Union, (Brussel: Official Published of the EC, 1996), p. 4

[3] EMU Update: Policies, Politics,Business Views and Prospects, EC Policies, Mission of the Republic of Indonesia to the European Communities, vol. 4, no. 4, Juli-Agustus 1996

[4] The Moment of British Nationalism, dalam http://www.britishcouncil.org/studies/england/report_5.htm, diakses pada tanggal 4 Desember 2003, pkl. 15.07 WIB

[5] Peter Mandelson & Roger Liddle, The Blair Revolution: Can New Labour Deliver?, (London: Fabber & Faber Ltd., 1996), p. 158

[6] The Guardian Poll, dalam http://www.icmresearch.co.uk/reviews/2002/guardian-poll-nov-2002.htm, diakses pada tanggal 22 November 2003, pkl. 01.12 WIB

[7] Joseph Frankel, The Making of Foreign Policy: An Analysis of Decision Making, (London: Oxford University Press, 1968), p. 81

[8] Cathy Newman, UK and Euro Political Debate: Tories Rule Out Euro ‘Stunts’, dalam http://specials.ft.com/euro/FT3CEBCDIVC.html, diakses pada tanggal 6 Desember 2003, pkl. 11.37 WIB

[9] Euroscepticism, dalam http://en2.wikipedia.org/wiki/Euro-sceptic, diakses pada tanggal 6 Desember 2003, pkl. 11.49 WIB

[10] Peter Mandelson & Roger Liddle, Op. Cit., p. 159

[11] The Parties and The Single Currency, dalam http://news.bbc.co.uk/1/hi/events/the_launch_of_emu/the_uk_and_emu/229650.stm, diakses pada tanggal 6 Desember 2003, pkl. 12.04 WIB

Depok, 21 Desember 2003

El Mundo Esta de Pie!

I tell you something; I’m just so excited to welcome Olimpiade Beijing 2008. Ya, ya, saat saya menulis tulisan ini, opening ceremony tinggal hitungan jam.

Terus terang saya sedang mengalami flashback tingkat tinggi. Jadi saya bukan gembira menyambut Olimpiade kali ini. Esensinya lain. Walau secara de facto saya berada di kantor, dihadapkan pada beberapa schedule meeting harian dengan client (atau yang biasa kami sebut dengan grantee), plus lembar-lembar halaman yang harus saya translate sebelum deadline, pikiran saya jauh mengawang. Mengingat Gloria Estefan berdiri di atas panggung megah di bawah bintang-bintang. Bernyanyi sembari menghipnotis saya, yang saat itu sedang duduk manis di depan televisi bukan flat berukuran dua puluh satu inci.

 

If I could reach, higher…Just for one moment touch the sky, from that one moment in my life

 

Betapa hebatnya Amerika. Mereka berhasil menyulap Olimpiade Atlanta 1996 menjadi sebuah kompetisi sarat makna. Mereka tahu bahwa esensi Olimpiade sebenarnya bukanlah kemenangan para atletnya semata (walaupun tak dapat disangkal bahwa kemampuan atlet Amerika di atas rata-rata). Mereka mengemasnya dengan cantik, menyentuh hati jutaan rakyat dunia bahkan sebelum peluit pertandingan dibunyikan untuk pertama kalinya. Pada waktu itu, selama tiga minggu penuh mata saya lekat dengan layar kaca, menggonta-ganti saluran antara RCTI dan TVRI (seingat saya hanya dua channel ini yang menayangkan Olimpiade walaupun tidak selalu siaran langsung), tanpa ada perasaan bosan yang mendera. Di hari-hari akhir menjelang penutupan Olimpiade, pasangan ganda putra kebanggaan Indonesia; Ricky/Rexy, berhasil merebut medali emas satu-satunya. Saya saja sampai hampir menangis ketika lagu Indonesia Raya membahana. Padahal saya hanya orang awam yang ribuan mil jaraknya dari peristiwa tersebut berada.

 

Saya pecinta sepakbola sejati. Setidaknya itulah yang kerap saya tekankan kepada semua orang saat mereka mempertanyakan apakah saya hanya suka Liga Italia karena wajah-wajah tampan para pemainnya. Saya katakan, tidak. Saya justru gembira bukan main ketika ada tim gurem memenangkan duel melawan tim raksasa. Seakan atmosfer kemenangan dalam stadion mereka bergemuruh dalam dada saya. Kegemaran saya yang lain adalah mengeraskan volume televisi saat peluit ditiup oleh referee di akhir pertandingan. Saya suka melihat wajah suporter yang tersenyum bahagia. Suka karena saya tahu bahwa kenyataan yang terjadi di lapangan telah jauh melebihi harapan dan angan-angan mereka. 

 

Walaupun demikian lagu theme song favorit saya bukan milik si Gloria Estefan. Kalau boleh saya melenceng sedikit ke putaran Piala Dunia 1998 sepuluh tahun silam, saat saya untuk pertama kalinya bergidik mendengarkan lagu La Copa de La Vida. Sebelumnya tolong jangan nilai siapa penyanyinya. Walaupun saya tidak punya urusan dengan Ricky Martin, tapi saya harus akui bahwa lagu itu menjadi semakin hidup karena vokalnya yang dinamis dan menggelora. Sexy and wild. Daring and passionate. Anda tak perlu melihat gayanya dalam video klip, cukup dengarkan lagunya lewat MP3 Player atau CD. Gosh, it was a real masterpiece. Saya percaya bahwa ada andil dari lagu tersebut yang ikut mengantarkan Perancis menjadi juara. Coba Anda dengarkan sepotong liriknya.

 

And when you feel that heat
The world is at your feet
No one can hold you down
If you really want it
  

Great! Sejak saat itu saya sadar bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Impossible Is Nothing, saya suka kalimat itu, walaupun harus mengutip dari slogan salah satu produsen apparel olah raga terbesar di dunia. Lalu apa hubungannya kemenangan Perancis dengan lagu itu? Coba Anda lihat satu paragraf dari lirik berikutnya.

Just steal your destiny
Right from the hands of fate
Reach for the cup of life
Cause your name is on it

 

Begini ceritanya. Perancis negara besar. Kerap melahirkan pemain sepak bola kelas dunia sedari dulu. Juste Fontaine dengan naluri killer di mulut gawang dan Michel Platini si playmaker brilian, tapi keduanya gagal membawa pulang gelar juara untuk Perancis di Piala Dunia 1938 dan 1986. Fakta ini tak ayal membuat Perancis tak pernah difavoritkan dalam pasar taruhan. Dan ya, pada taggal 12 Juli 1998, bersanding dengan Brazil si favorite of all-time di partai puncak, dunia seakan terhenyak melihat kepala botak Ronaldo hanya mampu tertunduk di lapangan. Brazil dipencundangi 3-0 tanpa balas. Perancis membalikkan perkiraan semua orang. Membalikkan takdirnya sendiri dengan garang. Mencuri sebuah sejarah yang dianggap akan menjadi milik Brazil di awal pertandingan. They obviously steal their destiny from the hands of fate.

 

 

 

Oke, sudah saatnya kembali ke Olimpiade tadi. Rasanya terlalu jauh saya ajak Anda berkeliling dunia padahal intinya bukan di sini. Saya cuma mau curhat sedikit tentang kiprah Indonesia di Olimpiade sekarang yang semakin tidak jelas juntrungannya (maaf saya menulisnya dalam italic walaupun jelas-jelas bukan bahasa Inggris, karena saya pribadi tidak bisa memastikan kata juntrungan itu bahasa apa). Kemarin saya tumben-tumbennya pulang dari kantor sambil khusyuk mendengarkan radio Elshinta program berita sore sambil menimati pemandangan sepanjang Jalan Arteri Permata Hijau yang tumben-tumbennya lengang. Kata si penyiar, Indonesia kembali menargetkan medali emas dari cabang bulutangkis. Well, that’s the same thing with what I heard when I was watching Dunia Dalam Berita more than a decade ago! Bulutangkis dan bulutangkis.

 

Saya gemas. Memangnya jenis olah raga di tingkat setinggi Olimpiade hanya ada Bukutangkis? Kadang pemerintah memberikan alibi bahwa bulutangkislah kegiatan olah raga yang turun-temurun telah menjadi budaya di Indonesia. Tidak menghenrankan mengapa atlet-atlet Afrika bisa merajai Cabang atletik, yang katanya, karena faktor alam semata. Aha, bukankah di pedalaman Kalimantan juga banyak terdapat hutan? Bukankah banyak orang Indonesia yang jago karate dan pencak silat, bahkan sampai pakai ilmu-ilmu segala? Kalau menurut saya sih, daripada pakai ilmu untuk membunuh orang karena kalah sabung ayam, mendingan aji-ajiannya dipakai di Olimpiade untuk mengalahkan lawan. Beres sudah, emas di tangan, pundi-pundi menjadi tebal hasil kucuran bonus dari pemerintah yang kian menghargai segala sesuatunya dengan uang.

 

 

Apa mau dikata, Indonesia masih saja tetap berharap dapat medali emas dari cabang bulutangkis, cabang yang bahkan kini telah diramaikan dengan para artis pendatang baru seperti Jepang dan Jerman, yang dua belas tahun lalu tim bulutangkis mereka bahkan belum mampu masuk ke putaran Olimpiade. Betapa parah kedangkalan otak-otak pemimpin di negara kita. Sama parahnya dengan membebankan Lisa Rumbewas untuk merebut medali (kali ini emas setelah empat tahun lalu memboyong perak) lagi di Olimpiade Beijing kali ini, tanpa memedulikan bahwa usia atlet Papua itu sudah menginjak angka 30.

 

Walaupun begitu saya masih akan stick to my opinion. Percaya pada slogan Impossible Is Nothing. Saya bermimpi bahwa suatu saat atlet-atlet Indonesia bisa datang ke kancah Olimpiade dunia sambil meneriakkan yel-yel: 

ARRIBA VA!! EL MUNDO ESTA DE PIE!

They must believe first, that the world is in their hands, seperti yang diadopsi para pemain Perancis ketika berjaya di tahun 1998.

Saya sendiri tidak tahu mimpi saya bisa terwujud kapan.

 

-Jakarta, 5 Agustus 2008-

Sekuntum Iris Untuk Iris

 

Indah benar namamu. Iris. Mengingatkanku pada lantunan

manis lagu Goo Goo Dolls berjudul serupa.

Serupa pula dengan

paras wajahmu yang lembut bersahaja. Memandangmu tak pelak membuat hatiku kian bergelora. Betapa tidak karena bahasa tubuhmu lebih cantik dari bunga Iris yang sesungguhnya.

 

And I’d give up forever to touch you
Cause I know that you feel me somehow

 

Aku ingat ketika pertama kalinya kau meminjamkan buku catatanmu yang tersusun rapi di bangku SD kelas lima. Padahal aku tidak minta. Tiba-tiba wajahmu terlihat iba kala kau melihat diriku dihukum di tengah lapangan upacara. Kau tanya padaku apa sebabnya, kujawab karena aku tidak bisa mengerjakan tugas ibu guru Bahasa Indonesia. Ya, hatimu memang terlalu mulia. Kau bahkan sudah tahu bahwa aku memang murid yang tak pernah memberikan atensi sama sekali ketika jam belajar tiba. Saat itu tubuhku gemetar menyentuh tanganmu. Jari-jari lentik bertatahkan kuku berkilau seperti kaca. Bagiku kau tak lain seorang Dewi dari nirwana.

 

You’re the closest to heaven that I’ll ever be
And I don’t want to go home right now    

 

Kau paling mengerti aku ketika kita berdua beranjak remaja. Ada kalanya kita bejalan-jalan bersama ke suatu tempat, hanya untuk membeli sebatang es krim yang kita nikmati satu berdua. Kadang kita bercengkrama menghabiskan waktu sambil membaca buku-buku tentang cinta. Atau cukup bagiku untuk merasakan kehangatan senyummu ketika kita menonton film kartun sembari duduk-duduk di atas sofa empuk di ruang keluarga rumahmu yang berwarna jingga.

 

And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
Cause sooner or later it’s over
I just don’t want to miss you tonight

 

Iris namamu. Tahukah kau seberapa besar aku merindumu? Tujuh belas tahun berlalu sejak aku mengulurkan tangan dan menyebutkan namaku padamu. Mungkin kau tidak ingat akan masa-masa indah itu. Tapi aku, hal itu tak pernah lekang dari pikiranku. Aku di sini selalu memperhatikanmu. Melihatmu tumbuh menjadi gadis dewasa yang menjadi pujaan setiap orang. Iris yang tak pernah sepi dari kumbang. Kumbang-kumbang memang selalu mengincar kesempurnaan. Mereka tahu bahwa setiap detil tubuh Iris tak ayal mengundang hasrat para pria, baik yang biasa-biasa saja sampai yang bajingan. Tapi mereka hanya datang dan pergi, sayang, tidak seperti aku yang setia menunggumu sampai sekarang.

 

And I don’t want the world to see me
Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s made to be broken
I just want you to know who I am

 

Kemarin aku mencoba menghubungimu, tapi tak sekalipun kau jawab. Ah, bukankah kita dulu teman akrab? Lalu mengapa kini kau mencoba berlari dariku? Mungkin aku pernah bersalah padamu. Ya, aku buat cerita palsu tentang perselingkuhanmu dengan Bobby, yang membuat Anton memutuskanmu di depan lobby kampus satu waktu. Kau menangis dan berlari padaku. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menghiburmu. Waktu itu kau pasti tak pernah menyangka bahwa akulah si pelaku.

 

And you can’t fight the tears that ain’t coming
Or the moment of truth in your lies
When everything seems like the movies
Yeah you bleed just to know your alive

 

Aku juga pernah sekali waktu datang ke rumahmu. Ibumu menyambutku begitu hangat dengan sajian teh susu. Ia bilang kau sedang pergi merayakan ulang tahun Rio, pacarmu saat itu. Tiga jam aku menunggu. Entah niat buruk apa yang melintas di kepalaku, aku pura-pura mengeluh pusing dan butuh istirahat. Ibumu menyuruhku tidur di kamarmu. Tentu aku ikuti nasehatnya. Dan tentu aku tidak tidur di situ. Mataku menyapu sekeliling kamarmu, memeriksa setiap benda di lemari-mu. Tak sengaja kutemukan sekotak alat pengaman yang mungkin kau gunakan saat bercinta dengan kekasih-mu. Bukan main sakitnya hatiku. Kau takkan pernah tahu itu. Takkan tahu bahwa aku yang telah lumurkan cairan ethanol pada alat itu supaya kalian berdua merasakan pedih seperti jiwaku.

 

 

***

 

Tepat pukul sembilan malam. Suara piano yang memainkan nada-nada dari Simphony No. 5 karya Beethoven sudah mengalun lembut sedari tadi di telinga. Kupanggil waitress untuk memesan segelas lagi Mimosa. Lelaki bertubuh kekar tapi kemayu itu mengantarkan pesananku sambil sesekali melirik apa yang kubawa di meja. Sekuntum bunga Iris untuk Iris yang kudamba. Rasanya malam ini malam yang tepat bagiku untuk menyatakan perasaan yang terpendam belasan tahun lamanya.

 

When everything’s made to be broken
I just want you to know who I am..

I just want you to know who I am.

 

Iris datang setengah jam kemudian. Ia melambai dari kejauhan. Kulitnya yang kuning langsat dibalut blus transparan coklat kemerahan. Ya, malam ini adalah malam yang paling tepat untukku mengungkapkan perasaan. Malam yang paling tepat untuk membiarkannya tahu bahwa Donna sahabatnya sejak bangku sekolah dasar ini adalah seorang lesbian.

 

 

– Larangan, 4 Agustus 2008 –

Legenda Benang Merah

         

          “Goedemorgen, Mevrouw Erika. Wilt u teken van brief?” Sebuah suara berhasil mengalihkan pandanganku yang sedari tadi menatap layar komputer di hadapan.

            Aku mengernyit. Antara bingung dan kaget. Kok pagi-pagi begini mejaku sudah didatangi Hans, salah satu office boy di kantor.

            “Ah, ja, natuurlijk.” Akhirnya aku bersuara, seraya menandatangani surat tanda terima yang dibawa oleh Hans. Setelah mengucapkan ‘dank je wel‘ alias ‘terima kasih’ dalam bahasa Belanda, aku segera membuka amplop kecil berwarna ivory yang diselipkan di pangkal karangan bunga yang baru saja kuterima. Kubaca seuntai kalimat yang tertera di sana: ‘Heeft u zin om met mij te dineren vanavond?’ Si pengirim mengajakku dinner nanti malam. Tanpa nama.

Hmm…tulip biru, pikirku. Sejak dulu aku suka sekali tulip biru. Baru sehari tiba di Arnhem, bunga itu sudah bisa kutemukan dengan mudahnya. Padahal di Jakarta kucari ke Barito pun jarang sekali ada.

“Kamu beruntung datang ke sini saat musim semi. Kalau di musim dingin atau gugur, di sini dingin sekali, bisa-bisa badan kamu susah beradaptasi,” kata Sara, teman yang lebih dulu ditempatkan di Arnhem oleh perusahaan kami. Aku dan Sara sama-sama bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang memiliki cabang di empat puluh negara, sebagai trainee untuk masa kontrak tiga tahun. Asyiknya, pegawai yang performance-nya dinilai baik bisa mendapatkan kesempatan bekerja selama satu tahun di salah satu cabang perusahaan yang berada di luar negeri. Aku tentu tak ingin melewatkan kesempatan ini. Tinggal di luar negeri untuk sementara, kapan lagi? Beruntungnya lagi, aku ditempatkan di Arnhem, sebuah kota yang terbilang cukup indah di Belanda, dan bukan seperti beberapa rekan kerjaku yang lain yang dikirim ke negara-negara Afrika yang panas sehingga seperti tidak ada bedanya dengan tinggal di Indonesia.

Kubolak-balik amplop kecil yang ada di tanganku. Putus asa aku mencari nama si pengirim tulip biru. Hhh…, ya sudahlah, pikirku resah. Dalam hati aku pun malas menanggapi. Kira-kira dua bulan yang lalu aku datang ke Arnhem, meninggalkan Ayah, Bunda, dan adik-adikku tercinta di Jakarta. Mimpiku seakan jadi nyata. Sudah lama aku ingin hidup mandiri di luar negeri, karena selama di Jakarta aku masih tinggal di rumah orangtuaku di kawasan Cilandak. Ayahku seorang pensiunan polisi. Ia cukup terhormat di lingkungannya. Sedangkan Bunda adalah tipikal ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan anak-anaknya. Jadilah aku seorang Erika yang selama hidupnya tak kurang suatu apa pun. Kami sekeluarga hidup berkecukupan. Kuliah pun kuselesaikan dalam jangka waktu tidak lebih dari empat tahun. Tak lama setelah aku menyandang gelar sebagai sarjana ekonomi, aku diterima bekerja di perusahaan ini.

Yang mengherankan bagiku, sejak menginjakkan kaki di Arnhem, aku justru merasa begitu kesepian. Padahal aku punya banyak teman yang menyenangkan di sini, termasuk Sara yang kini telah menjadi sahabat terdekat. Apalagi orang-orang Belanda memang pada dasarnya ramah, open-minded, dan mudah bergaul, sehingga sebagai orang Indonesia aku sama sekali tidak merasa terkucilkan.

Suatu sore sepulang kantor, Sara pernah mengajakku minum kopi di kedai terdekat dari apartemen kami. Kami memang tinggal di dalam satu apartemen namun tetap memiliki kamar yang terpisah.

Saat itu senja begitu hangat dengan angin yang seperti enggan berhembus. Tiba-tiba di tengah percakapan Sara menyeletuk, “Er, lo sadar nggak kalau Ivan naksir berat sama lo?”

Dalam hati aku langsung berteriak mengiyakan. Aku tertawa “Gimana nggak sadar kalau sebentar-sebentar nongol di messenger-ku dan ngirim emoticon aneh-aneh? Gila ya dia, caper banget jadi orang!” Sahutku sambil bercanda.

Tapi Sara tidak ikut tertawa. Dari matanya kulihat segumpal keresahan yang sedang begitu mengusik pikirannya.

“Ada apa, Sar?” tanyaku lembut. Kuletakkan secangkir caramel-mochaccino hangat kesukaanku yang sedari tadi kupegang erat-erat. “Kalau ada sesuatu, pleaseeee, cerita sama gue. Siapa tahu gue bisa bantu.”

Kegelisahannya mulai mereda. Aku kenal betul Sara. Ia seorang wanita introvert yang lembut hatinya. Dan aku tahu bahwa tidak mudah baginya untuk mengungkapkan kegelisahannya pada orang lain, sekalipun aku sebagai teman dekatnya.

Hening sejenak, tapi tak lama kemudian ia mulai bicara. “Mmm, Er, Ivan itu mantan gue. Tapi gue udah putus sama dia sebelum lo dateng ke sini…”

Aku terhenyak. Kok dia tidak cerita dari dulu? Ah, aku merasa tak enak hati. Baru saja aku menertawakan sikap Ivan padaku yang menggelikan lewat messenger, padahal Ivan itu mantannya. Kini aku ikhlaskan diri jika Sara mau protes atau marah padaku.

Aku masih menatapnya, kini dengan permohonan maaf. Tapi ia tak peduli dan lantas berbicara lagi. “Er…, lo suka dia?” Tanyanya hati-hati.

Aku semakin terhenyak, dan tanpa pikir panjang aku menjawab dengan tegas, “Nggak.”

Sara menghela nafas. Lega. “Gue bukan ngelarang lo suka sama dia, Er, tapi.., sebenernya.., gue masih sayang banget sama Ivan…” Satu dua bulir air mata mulai mengalir di pipinya yang seputih salju.

Kemudian aku memeluknya. Ah, Sara, pikirku. Mengapa ia bisa berpikir yang bukan-bukan? Padahal tidak sedikit pun aku menyukai Ivan. “Er, mungkin lo akan anggep gue gila, tapi entah kenapa gue masih percaya banget kalau suatu waktu gue bakal balik lagi sama Ivan.” Timpalnya lagi.

Aku biarkan ia bercerita sepuasnya. Cerita tentang kepercayaannya akan benang merah. Bahwa katanya di setiap jari kelingking kiri wanita telah terikat simpul benang merah tak kasat mata yang tersambung pada jari kelingking seorang pria. Pria itulah yang akan menjadi jodohnya. Sara bilang ia bisa melihat bahwa benang merah di jari kelingking kirinya tersambung pada jari kelingking kanan Ivan. Pertama aku ingin tertawa. Benang merah…, gumamku dalam hati, kok hari gini cewek cantik dan cerdas macam Sara masih percaya takhyul?

Setahuku Sara memang seorang gadis Jawa keturunan Keraton yang kadang-kadang bisa menggunakan indera ke-enamnya. Pernah suatu kali ia bilang bahwa di apartemenku ada ‘sesuatu’. Tapi, belum sampai ia menjelaskan inti ceritanya, aku sudah menyuruhnya berhenti karena bagiku lebih baik aku tidak tahu sama sekali daripada aku ketakutan setengah mati.

Begitulah. Antara percaya dan tidak, aku mendukung keyakinan Sara. Tentu sebagai sahabat aku ingin melihatnya sedikit tersenyum saat ia sedang resah luar biasa.

Kulirik jam dinding di ruanganku. Bukan ruang privat memang, karena ada sekitar sepuluh orang yang bekerja di dalamnya. Semuanya adalah pelaksana di bagian audit. Sedangkan Sara dan Ivan sama-sama masuk ke dalam bagian marketing dan berada di ruangan lain. Aku hendak meng-klik mouse ketika kursor di layar bergerak ke kotak shut down. Sudah waktunya pulang, dan aku tak punya pekerjaan lagi yang harus kukerjakan hari ini. Namun belum sempat aku menekan mouse, muncul instant message bertuliskan ‘Tot 7.00 uur!’ yang artinya ‘sampai ketemu jam tujuh’. Ternyata itu Ivan. Ah, cerobohnya aku sampai-sampai lupa menutup Yahoo! Messenger. Lantas sesegera mungkin kututup window tersebut tanpa kubalas terlebih dahulu, dan mematikan komputer. Karangan bunga tulip yang cantik itu kuberikan kepada office boy untuk dibuang. Aku pulang dengan perasaan lega. Tak mungkin aku memutuskan untaian benang merah yang tersambung antara jari kelingking Sara dan Ivan.

***

            Apartemenku berantakan tak karuan. Beginilah resiko tinggal di luar negeri, tak ada pembantu yang biasa dipekerjakan untuk beres-beres rumah seperti di Jakarta. Aku bukan orang yang resik, rapi pun tidak. Seingatku kamar tidur yang kini bak kapal pecah itu memang sudah tiga hari tak kubersihkan. Tapi tekadku bulat, sebelum jam sepuluh aku sudah harus bisa membereskan semuanya!

            Sekitar jam dua belas aku membuka notebook dan menyambungkan kabel internet. Aku rindu pada Ayah dan Bunda. Juga pada Riza dan Riva, adik kembarku yang usianya hanya terpaut tiga tahun denganku. Malam ini aku sudah janji akan ber-messenger ria dengan mereka. Tepat pukul tujuh di Jakarta, mereka pasti sudah selesai menikmati sarapan pagi.

            Beberapa detik kemudian hubungan tersambung. Tak seperti biasanya, kali ini mereka menyapaku dengan nada muram. Ada apa ini?, pikirku khawatir.

            Setelah Ayah dan Bunda yang berbicara denganku, kini giliran Riva dan Riza. Namun tiba-tiba sebuah pertanyaan aneh langsung keluar dari mulut Riva. “Kak, kakak beneran baik-baik aja di sana?”

            “Baik. Baik sekali. Kok nanyanya kayak gitu?”

            “Oh..nggak, nggak apa-apa.” Riza dan Riva saling berpandangan.

            Aku jadi curiga. “Hey, anak-anak nakal, ada apa sih? Mau ngerjain Kakak, ya? Ahh, basi! Emang Kakak nggak tahu kapan kalian bohong dan kapan kalian serius?”

Mereka terdiam dan sekali lagi saling berpandangan.

            “….ngggg…gini Kak..,” sahut Riza terbata-bata.

            “Gini apa? Yang jelas, dong kalau ngomong.”

            “…”

            “Halloooo…..,” aku semakin tidak sabar.

            Akhirnya mereka menyerah. “Oke, oke, kami kasih tahu. Tapi Kakak janji nggak bakal kenapa-kenapa, ya.”

            “Sip!”

            “Kak, kemarin Riza dapet e-mail dari temennya. Isinya pemberitahuan, bahwa temennya akan melangsungkan resepsi pernikahan di Kompleks Bidakara..,” terang Riva.

            “…so?” Tanyaku singkat. Ada urusan apa antara pernikahan teman adikku dengan AKU?

            “…nggg…waktu Riza lihat nama calon mempelainya prianya, di situ tertulis nama Adhyaksa Nandiwardhana…”

            Kepalaku seketika terasa berputar. Vena-venaku seakan copot dari jantung. Setelah itu aku tak mampu melihat apa-apa lagi.   

Kulihat Sara telah duduk di sampingku ketika aku sadar. Sedetik pertama aku terbengong-bengong heran mengapa aku sudah berada di tempat tidur dan ditemani Sara pula. Sedetik kemudian ingatanku pulih, bahwa beberapa jam yang lalu aku nyaris tewas karena aku mendengar berita paling menyakitkan yang pernah kudengar.

Adhyaksa Nandiwardhana — atau yang biasa kuingat dengan Dhana. Dia pernah menjadi bagian dari masa laluku. Duniaku. Setahun kami bersama, kami telah membangun mimpi-mimpi indah di kemudian hari. Kami rangkai asa untuk kehidupan di masa depan berdua. Aku mencintainya sedemikian rupa. Sampai suatu saat keluarga besarnya menentang rencana yang telah kami susun rapi-rapi. Mereka bilang aku bukan orang yang tepat untuk Dhana. Tanggal lahirku tidak akan dapat selaras dengan tanggal lahirnya jika menggunakan perhitungan Jawa. Menyakitkan. Perpisahan kami seakan telah ditakdirkan.

Sebagai putra pertama dalam keluarga besar, Dhana harus memikul mitos dan kepercayaan tersebut, karena kalau pada akhirnya pernikahan berakibat buruk, maka aib yang harus ditanggung keluarga luar biasa besarnya. Aku benar-benar kecewa. Ketika berita tersebut sampai ke telinga orangtuaku, mereka justru berbalik marah kepada keluarga Dhana sehingga mebuat kondisi semakin memburuk. Tanpa ampun lagi, aku pun berpisah dengan Dhana. Itu memang sudah terjadi satu setengah tahun yang lalu. Namun saat kemudian beberapa jam yang lalu aku mendengar berita itu, aku sadar bahwa waktu satu setengah tahun belum cukup untukku melupakannya.

Sara tertegun mendengar ceritaku. Dari awal sampai akhir cerita aku hanya mendengar ia bergumam “Ya Tuhan…” berulang-ulang, dan pada akhirnya barulah ia berkata lain, “Ternyata lo lebih tegar dari yang gue kira ya Er,” gumamnya, mengakhiri ceritaku pagi itu.

 ***

            Delapan bulan sudah pernikahan Dhana, dan selama delapan bulan tersebut aku berusaha untuk survive dan mencoba untuk bangkit kembali. Bukan hal yang mudah, namun beruntung bagiku karena Dhana berada di Jakarta yang beribu-ribu mil jaraknya dari Arnhem.

            Kini aku tengah mempersiapkan pesta pernikahanku dengan Vino, lelaki pilihan Ayah dan Bunda yang masih memiliki hubungan kerabat jauh dengan keluarga Ayah. Pertemuan atas nama perjodohan, hal yang sangat biasa dalam keluarga besarku. Dulu kami pernah berkenalan, lima tahun yang lalu di sebuah resepsi pernikahan, dan baru dua kali bertemu lagi setelahnya, ketika ia secara khusus dua kali mengunjungiku ke kota ini.

Terus terang aku belum mengenal Vino secara mendalam, maksudku, bagaimana kami bisa menyelami pribadi masing-masing dengan kuantitas waktu pertemuan yang begitu minim? Tapi ketika pertama kali ia datang ke Arnhem, aku dapat merasakan bahwa ia adalah orang yang tidak akan pernah main-main dalam sebuah hubungan. Ia serius, sedikit berbicara tapi banyak bekerja. Ia baik hati dan pekerja keras. Dan yang lebih penting lagi, kedewasaannya membuatku bebas melakukan apapun yang aku inginkan sebagai wanita karier. Waktu itu aku berpikir bahwa semua kriteria suami ideal ada padanya.

Bahwa ia orang yang tidak main-main, analisaku benar. Dua bulan kami berpacaran, ia mengajakku bertunangan. Aku mengiyakan karena aku yakin orangtua kami pun akan gembira bukan kepalang. Dan sekarang hari pernikahan pun hampir tiba. Keluarga besar kami sedang mempersiapkan segala sesuatunya di Jakarta. Tinggal menunggu kepulanganku yang rencananya akan dipercepat enam bulan dari masa kontrak satu setengah tahun yang sudah kutandatangan dengan perusahaan sewaktu di Jakarta.

            Suatu malam, seminggu sebelum aku kembali ke Jakarta, aku mengajak Sara dan beberapa teman kantorku ke sebuah restoran untuk merayakan farewell party kecil-kecilan. Awalnya aku dan teman-temanku sempat berpikir untuk mengadakan bachelorette party sekaligus, namun niat tersebut aku urungkan karena pertimbangan biaya.

            Kami mengobrol dengan seru. Apalagi kalau bukan seputar pernikahan? Lateefa, seorang gadis Arab modern asal Mesir, menganggap bahwa pernikahan bukan pilihan utama hidupnya sekalipun ia telah berusia akhir duapuluhan. Rupanya ia trauma pada tradisi di negara-negara Arab di mana wanita yang sudah menikah kerap diperlakukan seperti budak. Shanice yang afro-Amerika mengaku baru berpikir untuk menikah setelah tinggal bersama satu atap selama empat tahun dengan kekasihnya. Jeanne yang asli Belanda mengungkapkan kekagumannya pada wanita Indonesia yang kebanyakan masih siap berkomitmen dan berdedikasi pada keluarga sehingga membuat banyak pria Belanda yang memperisteri orang Indonesia. Alisha, teman kantorku yang berasal dari India, mengeluarkan uneg-unegnya mengenai tradisi perjodohan di India.

            “Kadang kita berada dalam posisi serba salah. Di mana di satu sisi akan membahagiakan orangtua, namun di sisi lain seumur hidup kita akan menderita karena menikahi lelaki yang sebenarnya bukan kita kehendaki..,” sahut Alisha. “…menikah itu cuma sekali, jadi aku tidak mau memutuskannya dalam sekejap hanya dengan satu alasan. Bukan juga karena dikejar usia. It’s really worth to wait, until you hear your heart says  that ‘he’s the one’… 

            Seketika kami semua terdiam. Paling tidak, aku. Kalimat Alisha seakan terserap dalam otakku. Lantas pikiranku tertuju kepada Vino. Is he ‘the one’? Bahkan untuk pertanyaan sesingkat itu pun aku tak mampu menjawabnya.

            Apakah selama ini aku hanya lari dari kenyataan? Mungkin. Apakah selama ini aku hanya ketakutan menghadapi situasi yang mungkin akan sungguh menyakitkan di Jakarta nanti? Bisa jadi. Aku hanya berpikir akan kepentinganku sendiri. Aku hanya butuh Vino untuk melindungi harga diri dan gengsiku di depan Dhana. Sama sekali aku tak pernah terpikirkan bahwa setelah menikah, aku akan hidup bersama selamanya dengan Vino. Mungkinkah sebuah rumah akan kokoh jika fondasinya saja sudah rapuh?

            Berhari-hari aku memikirkan hal ini. Malam demi malam mataku tak sanggup kepejamkan. Namun hari ini tekadku telah bulat, bahwa aku akan membatalkan seluruh persiapan pernikahanku di Jakarta. Sudah agak terlambat, tapi kurasa akan lebih baik jika kukatakan sekarang juga mengingat persiapan telah mencapai lima puluh persen. Sungguh, sebenarnya aku tidak mau menyakiti hati Vino. Tapi tentu ia akan lebih hancur lagi jika ia mengetahui isi hatiku saat kami telah menikah nanti.

            Otakku masih berputar untuk mencari alasan untuk membatalkan pernikahan. Pertama aku menelepon Vino. Ketika telepon tersambung mendadak lidahku kelu. Aku hanya sanggup berkata, “Vino, i’m so sorry dear.., i can’t be with you anymore…” Klik. Sambungan terputus dari sana. Vino bahkan tak bertanya apa-apa lagi sesudahnya. Air mataku mulai menetes. Akan kutunggu, Vino, sampai kapan pun kau rela memaafkan, bisikku dalam hati. Kepada keluargaku, aku hanya berkata: ”Bunda, Ayah, maafkan Erika.” Aku hanya bisa menjelaskan satu alasan yang tidak masuk akal namun selalu mengingatkan aku pada kekuatan cinta Sara; “…aku tidak bisa menikah karena benang merah di jariku tidak tersambung pada jari Vino…”

***

            Musim semi kembali datang di Arnhem. Setelah membatalkan pernikahan dengan Vino, aku memutuskan untuk tetap di Belanda, meneruskan kontrak kerja sampai selesai agar tidak dikenakan sanksi yang berjumlah ribuan dolar. Tanggung, tinggal dua bulan lagi. Selain itu, kerinduanku untuk melihat tulip biru yang hanya datang di musim semi pun bisa terobati. Pagi ini adalah pagi terakhir aku masuk ke kantor, karena hari Minggu dua hari lagi aku akan pulang ke Jakarta. Aku masuk kantor dengan penuh semangat. Di tangan kananku terjinjing kantong besar berisi box kue tiramisu untuk kubagikan dengan rekan-rekan kantor yang lain.

            Sampai di ruangan, kudapati pemandangan yang membuatku tertegun. Sekuntum tulip biru diletakkan di atas meja kerjaku, disertai sebuah kartu ucapan bertuliskan: “Kijk onder! Ik wacht van jou aan de weg. Mag ik je naar huis brengen?

            Aku melihat ke jalan lewat jendela persegi berukuran besar di belakang meja. Seorang pria menunggu di sana, membawa rangkaian tulip biru di tangannya. Dia tidak mungkin Ivan karena Sara telah berhasil merebut hatinya kembali sebulan yang lalu. Juga tidak mungkin Vino yang hingga kini belum memaafkanku.

            Itu Dhana. Dengan senyum khasnya, dengan rambut tebalnya yang berkibar tersepoi angin. Aku tahu itu Dhana. Bahkan setiap jengkal sosoknya pun masih kuingat dengan jelas. Aku menghambur ke luar kantor dan berlari menghampirinya di seberang jalan. Sadar ia telah menikah dengan wanita lain, kuredam keinginan untuk memeluknya walau sekejap saja.

            “Aku tidak jadi menikah, Er… Semuanya kubatalkan. Aku tak akan pernah peduli lagi tentang mitos-mitos itu. Maafkan aku yang dulu. Aku tahu aku tidak akan pernah menikah.., kecuali sama kamu.” Kata-katanya terhenti sejenak, lalu dilanjutkan dengan kalimat terindah yang dulu pernah kuimpikan; “Will you marry me? Pulang ke Jakarta sama aku, ya? Mag ik jou naar huis brengen?

            Mataku berkaca-kaca. Baru kemudian aku sanggup memeluk dirinya. Erat. Sambil mensyukuri karena aku sempat percaya bahwa mitos tentang benang merah itu benar-benar ada. Entah apakah pada kenyataannya benang itu memang tersambung antara jariku dan jari Dhana atau tidak, yang jelas kini aku bahagia.   

                                                                                                    (Jakarta, 14 Februari 2007)

Stasiun Gambir, Pagi Itu

                         

 Entah peron urutan keberapa yang sedang kupijak sekarang. Mungkin ke-tujuh, atau ke-delapan. Yang jelas jika ku membalikkan badan akan tampak sebaris rel yang kian menyempit dan mengecil ujungnya serta melebar di pangkal. Tapi jika ku memandang lurus ke depan, aku hanya mampu melihat ratusan, atau mungkin ribuan, kepala manusia yang dihiasi seribu satu macam air muka dengan masing-masing makna.

Di sebelah kananku ada lelaki setengah baya yang hendak pergi bekerja. Dengan rambut putih di separuh bagian kepalanya, ia kelihatan sudah cukup tua untuk bekerja begini beratnya. Rute Bogor-Jakarta bukanlah rute yang bersahabat. Persoalan bukan pada jarak, yang dengan kereta api ekspress dapat ditempuh hanya dalam waktu kurang lebih satu jam saja. Tapi bagaimana para penumpang harus rela berdiri, berdesak-desakan, seringkali saling mendorong, tanpa memikirkan nasib orang lain di sekitarnya. Namun kerutan penuaan di wajahnya sedikit pun tak mengguratkan kelelahan. Aku bergumam dalam hati, mungkin ia justru merasa bangga dapat memberi nafkah keluarga dengan perjuangan semacam ini.

  Tepat di sebelah kiriku ada seorang wanita muda yang rupawan. Dari busananya aku bisa menebak kalau ia adalah seorang sekretaris di sebuah perusahaan. Ah, cantiknya dia, pikirku. Wajahnya bersinar kecoklatan. Dengan pulasan make up tipis si empunya wajah terlihat semakin menawan. Di bahunya tersandang tas hitam pekat dengan label kecil bertuliskan Gucci. Entah asli atau bukan, rasanya itu bukan menjadi urusan. Untung saja pakaiannya cukup sopan, sehingga ia cukup aman dari kategori sasaran pelecehan.

Persis satu-dua meter di depanku, seorang lelaki muda terlihat begitu antusias dengan kemeja garis-garis biru cerah dan tas selempang. Mungkin ia baru diterima sebagai karyawan tetap di perusahaan yang diidamkannya, tebakku lagi. Tubuhnya tegap walau tidak terlalu tinggi. Garis wajahnya tegas seperti mencerminkan semangat dan kekuatan hati. Secara keseluruhan, ia terlihat mempesona. Ah, andai saja aku punya keberanian untuk berkenalan dengannya. Sayang aku tak kuasa berhubungan dengan laki-laki. Masih teringat bagaimana dulu Ayah memperlakukan Ibu. Dipukulinya ibuku. Dibuatnya sekujur tubuh wanita yang melahirkanku itu membiru. Kemudian Ibu hanya menangis tersedu. Tak mampu ia melakukan lebih dari itu. Sampai akhirnya Ayah meninggalkan kami, untuk menikahi wanita lain yang jauh lebih muda terpaut usia dengannya.

Hatiku hancur saat itu. Begitu saja waktu kemudian berlalu. Sampai kemudian aku tumbuh menjadi gadis yang mandiri, dan tentu saja, membenci laki-laki. Tak ada tangan laki-laki mana pun yang kusambut. Tak ada kedatangan cinta yang kujemput. Walaupun tidak sedikit laki-laki yang menyukai diri ini. Bahkan beberapa diantaranya langsung melamarku untuk dijadikan isteri. Namun aku tak mampu. Masih terbayang di benakku hari-hari kelabu Ibu beberapa tahun yang lalu. Bagiku, bercinta dengan laki-laki sama saja dengan mengkhianati ibuku sendiri. Menjalin kasih dengan laki-laki pada akhirnya hanya akan mengikuti jejak Ibu yang penuh dengan malapetaka tanpa henti.

Aku tersadar dari lamunan saat seorang Bapak memanggilku dari belakang.

”Duduk, Neng…,” sahutnya ramah dengan logat Sunda seraya berdiri dan menyilahkanku untuk menggantikannya mengisi tempat duduk.

Aku kaget. Dengan sopan aku berusaha menolak, “Nggak usah, Pak…, saya teh nggak apa-apa berdiri.”

“Yah, si Eneng, bawaan berat begitu kok kekeuh berdiri. Ayo, gantian sini sama Bapak. Sudah separo jalan kok.”

Aku tersenyum padanya. Baik sekali Bapak ini, pikirku. Kuterima tawarannya dengan senang hati. Kedua tungkai ini lama-lama memang tak mau lagi diajak kompromi. Tak kuat rasanya aku berdiri bergelayutan di kereta ini sambil menyandang tas ransel besar di punggung dan menjinjing dua buah kantong besar di tangan kiri. Punggungku mulai nyeri.

“Terima kasih banyak, Pak,” ucapku sambil meregangkan otot kaki. Tanpa kusadari mataku mulai terpejam beberapa menit kemudian.

            Aku terbangun dari tidurku saat kereta api cepat ini baru saja akan melintasi Stasiun Pasar Minggu. Sekilas aku menyapukan pandangan ke luar lewat jendela di sisi kanan kereta yang terlihat sudah berdebu. Kemacetan yang sungguh luar biasa, mobil-mobil yang seakan berlomba membunyikan klakson, motor-motor yang lalu-lalang seperti laron. Ah, Jakarta, gumamku. Kalau saja aku tak perlu mengadu nasib di tempatmu. Aku sudah kerasan tinggal di Bogor, kota kelahiranku. Namun apa lagi yang kucari selain pekerjaan yang sepadan setelah aku lulus kuliah tiga bulan yang lalu?

            Seminggu yang lalu, surat pemberitahuan itu sampai di rumahku. Aku melompat kegirangan sesaat setelah membacanya. Di situ tertulis bahwa aku sudah diterima sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta nasional dengan gaji yang cukup menggiurkan. Konsekuensinya, aku harus bolak-balik melewati rute tak bersahabat Bogor-Jakarta setiap harinya. Tapi aku rasa pilihan tersebut akan sangat melelahkan. Maka kuputuskan untuk mencari kost di lokasi yang tak jauh dari tempat kerjaku di daerah Kota. Kupikir hal tersebut akan sangat menghemat waktu dan energiku. Dan pagi ini, lebih dari setengah barang-barang pribadi kuangkut dari Bogor dalam tiga buah tas besar yang cukup melelahkan kalau terus dibebankan oleh badan.

            Entah kenapa aku jadi teringat Ibu. Segenap rasa haru meyelimuti pikiran dan hatiku. Ibu-lah yang membanting-tulang membiayai sekolahku sampai aku bisa lulus kuliah. Ketika Ayah sebagai pencari nafkah pergi meninggalkan kami, Ibu berkata, “Biarlah, Nisa, cukup Ibu saja yang bekerja. Ibu tidak mau kau kehilangan masa depan. Belajarlah dengan rajin. Jadilah ‘seseorang’ kelak…”

Waktu itu aku sempat menawarkan diri untuk membantunya bekerja di tempat kerjanya di sebuah tailor. Ia memang seorang penjahit. Namun tekadnya yang kuat untuk menjadikan anak semata wayangnya ini berhasil dan menjadi ‘seseorang’, membuat ia berhenti dari pekerjaannya dan memutuskan untuk menjadi TKI ke Arab Saudi. Berat rasa hati ini melepaskan dirinya, apalagi banyak kudengar bahwa perlakuan warga di sana terhadap para TKI terkadang tidak manusiawi. Walaupun diberi upah yang cukup besar, tapi bagiku, hal itu tak cukup sebagai sebuah kompensasi.

            Tapi apa mau dikata, Ibu berkeras pergi. Meninggalkanku hanya dengan seorang Bibi, adik Ibu satu-satunya. Tahun demi tahun kulewati. Setiap kali kemalasanku muncul, aku selalu mengingatkan diri, agar jangan lupakan pesan Ibu. Ketika harapanku untuk masuk perguruan tinggi tercapai, batinku tak jemunya menyemangati untuk mencapai nilai maksimal dan lulus dengan membanggakan, supaya aku kelak bisa bekerja dan membahagiakan Ibu.

Sudah setahun belakangan ini Ibu tak lagi berkirim surat denganku seperti dulu. Aku bertanya-tanya. Kekhawatiranku semakin menjadi, sampai dua bulan yang lalu Bibi memberitahu bahwa kondisi Ibu baik-baik saja di sana. Kata Bibi, Ibu mencoba mengirim surat ke alamat rumah namun surat tersebut tidak sampai dan dikembalikan lagi melalui kantor pos setempat ke tangannya. Akhirnya Ibu menelepon sebentar dari Arab Saudi untuk memberi kabar. Sayang, aku tidak ada di rumah saat itu.

            Kata Ibu, kini ia telah pindah bekerja di kota yang lebih kecil sehingga ia semakin sulit mencari kantor pos untuk berkirim surat denganku. Ia hanya berpesan supaya aku tidak mengkhawatirkan dirinya. Itu saja. Jelas aku kecewa. Rinduku kian membuncah pada Ibu. Delapan tahun sudah kami tidak bertemu. Sedang apa ia di sana? Bahagiakah dirinya?

            Bapak yang tadi mempersilahkanku duduk masih berdiri tak jauh dariku. Usianya mungkin sekitar akhir tigapuluhan. Masih segar bugar. Daripada lamunanku terus bergerilya kemana-mana, lebih baik aku mengobrol dengan Bapak yang terlihat ramah ini, aku membatin. Lagipula tidak lama lagi kereta akan sampai di Stasiun Gambir, stasiun yang kutuju.

            “Kerja di mana, Pak?” Tanyaku memulai percakapan.

            “Di Departemen Perhubungan. Eneng teh mau pindahan ke Jakarta? Barangnya banyak pisan…,”

            “Oh…nggak, eh, iya, Pak. Sebenernya saya baru diterima kerja di Kota, sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang air minum. Nah, rencananya saya mau tinggal di sana aja sekalian, daripada bolak-balik Jakarta-Bogor.”

            “Bener itu, Neng…, lebih efisien. Lagian kalo perempuan mah kasian berjejalan naik kereta kayak begini. Belom lagi banyak orang iseng. Untung Bapak laki-laki, nggak ada yang mau nggodain,” candanya.

            Aku tertawa kecil. “Lha, Bapak sendiri kumaha, nggak tinggal aja di Jakarta?”

            Ia menjawab dengan serius. “Bapak kan punya keluarga di Bogor. Nanti kalau jauh, bisa-bisa Bapak malah kecantol perempuan nggak bener di Jakarta.”

            Kutanggapi perkataannya dengan setengah bercanda, “Ah…, masa sih, Pak? Kalau iman kuat mah nggak bakal begitu…”

            “Eeh, kata siapa? Eleuh-eleuh, Neng, hati-hati. Di Jakarta teh banyak godaan. Alhamdulillah kalau kayak si Eneng, dapet kerjaan bener. Banyak perempuan yang mengadu nasib di Jakarta tanpa modal apa-apa. Kerjaan apa juga disambet, asal bisa datengin banyak uang…mulai dari jadi pelacur murahan yang biasa mangkal di rumah bordil atau pinggir jalan, sampe yang mau dikawinin pake kontrak sama bule edan…”

            Aku tercekat. Tak kukira Jakarta separah itu keadaannya.

            Ia meneruskan, “…makanya, Neng, pesen Bapak mah cuma satu; hati-hati.”

            Aku menghela nafas. “Iya, Pak…pesan Bapak pasti selalu saya ingat. Sampai ketemu ya, Pak!” Ujarku menutup percakapan kami karena kereta sudah sampai pada tujuan di Stasiun Gambir. Ia pun melambai, seiring dengan bayangan dirinya yang semakin menjauh dan kemudian menghilang.

            Aku berjalan di tengah ramainya stasiun terbesar di kota Jakarta. Pagi ini seperti pagi di kota besar pada umumnya. Orang-orang hilir-mudik dan disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Terlihat pula orang-orang yang hidupnya diburu waktu yang kian berharga di antara dinamisnya kehidupan jaman sekarang.

            Aku terus berjalan melintasi koridor besar stasiun sampai menemukan pintu keluar yang menghubungkannya dengan jalan raya. Karena tak hapal betul jalan, aku berniat mencari taksi. Selagi menunggu taksi kosong lewat, aku memperhatikan jalan raya yang tiap sepersekian detiknya dilewati oleh mobil-mobil mewah milik kaum yang berada. Sementara di dalam stasiun tadi masih banyak kujumpai ibu-ibu tua berbaju lusuh dan anak-anak kecil tanpa alas kaki menjajakan dagangan kesana-kemari. Ah, alangkah ironisnya kota ini, ucapku dalam hati.     

           

Sesaat kemudian sebuah sedan mewah berhenti tidak jauh dari tempatku berdiri. Seorang pria berdasi keluar dari salah satu pintu. Hidungnya mancung, tubuhnya tinggi tegap dan rambut ikalnya coklat lebat. Jelas ia bukan orang Indonesia. Entah dari negara mana, namun wajahnya memiliki garis-garis ras Kaukasoid, khas Timur Tengah.

            Setelah lelaki Arab itu turun, jendela mobil diturunkan separo dari dalam. Seorang wanita yang mengenakan sunglasses melambai dan mengatakan sesuatu kepada laki-laki yang akan pergi. Wanita itu sepertinya sudah tidak muda. Namun dengan rambut tinggi tersasak rapi dengan sentuhan warna mahogany membuatnya terlihat lebih muda dari aslinya. Wajahnya tertutup sapuan make up yang cukup tebal untuk ukuran pagi hari. Sejenak aku memperhatikannya. Entah angin apa yang membawa pandanganku untuk melihat ke sana. Tiba-tiba wanita itu membuka sunglasses-nya, mengucapkan kalimat perpisahan terakhir kepada lelaki berdasi tadi, seraya menutup kembali kaca jendela untuk kemudian pergi.

            Aku terhenyak. Muka wanita itu mirip Ibu. Ibu yang pergi sebagai TKI delapan tahun yang lalu. Seketika percakapan dengan Bapak di dalam kereta tadi menghantui pikiranku. Pelacur…, kawin kontrak…, bule… Ah, mungkinkah Ibu, wanita yang pernah begitu tersakiti oleh pria, bisa menjadi orang semacam itu?

Dalam hati kutepis dugaanku yang melewati batas. Berdosa rasanya aku memikirkan sesuatu tentang Ibu yang tak pantas. Aku memejamkan mata sejenak. Berdoa semoga apa yang kulihat barusan hanya halusinasi karena memang aku sedang merindunya sedari tadi.. Berharap supaya dugaanku hanya sekedar menjadi metafora dalam ironisnya Jakarta yang kupijak mulai hari ini.

            Keempat roda sedan mewah berwarna silver itu pun mulai berputar, bergulir membawa mobil itu jauh-jauh. Membawa pikiran gila itu jauh-jauh. Adakah ia memang ibuku?

Kalau ya, berarti aku telah dikhianati.

Kalau ya, berarti kebencianku terhadap laki-laki menjadi tidak berdasar lagi.

Kalau ya, berarti impianku untuk membahagiakan Ibu menjadi sia-sia tak berarti.

            Aku kembali berjalan, memutuskan untuk mencari cara alternatif agar secepat mungkin mendapatkan taksi. Badanku seketika lemas tak bertulang. Kakiku penat tak karuan. Cukup sudah sajian halusinasi-halusinasi pagi ini!

Sampai kemudian mobil itu tak lekang pergi dari hadapan. Rodanya hanya bergulir sejenak, untuk sesaat kemudian justru berhenti lagi persis di sampingku.

“Nisa…”

Panggilan itu seakan membawaku kembali ke alam nyata.

Ah, adakah wanita itu memang dia?

 

 

 

                                                                          (Larangan, 1 Februari 2007)

Dan Berkobar Api di Mata Rasheed

 

Negeri ini dulu indah. Dilingkupi hangatnya pancaran sinar mentari yang bermain di atas jazirah. Peluh dan keringat para pekerja tambang bukan merupakan pertanda lelah. Justru semangat mereka semakin berkobar seakan tak kenal menyerah.

 

Negeri ini dulu indah. Ketika Rasheed kerap bermain bekejaran bersama teman-teman. Berlari menyusul layang-layang yang semakin meninggi di atas awan. Sembari duduk-duduk di atas bebatuan kalau sudah kecapaian. Waktu yang tanpa terasa sudah terlewat dua puluh tahun silam.

 

 

 

Rasheed tumbuh sebagaimana mestinya. Ia anak laki-laki yang kuat dan bersahaja. Sedari kecil ia tak pernah gentar melawan siapa pun yang hendak mencederainya. Wajahnya rupawan laksana bulan. Kepintarannya tidak perlu lagi ditanyakan. Ketika Paman dan Bibi datang dari negeri-nya di wilayah Sahara, Rasheed sudah tahu bahwa Sahara itu letaknya di Benua Afrika, bukan di dekat negerinya. Ketika teman kerja Ayah datang dan bertanya apa cita-citanya kelak di hari depan, ia dengan lantang menjawab: “Aku ingin menjadi orang yang bisa dibanggakan!  Cita-cita aneh yang mungkin tidak akan terpikirkan oleh teman-teman seusianya.

 

Satu hari Rasheed sedang asyik bermain di halaman. Ia mencoba mengubah sepotong kayu menjadi mainan. Ayah Rasheed tidak kaya. Tapi Rasheed tak pernah tahu apa arti kaya karena memang penduduk di negerinya tidak ada satu pun yang kaya. Tiba-tiba Rasheed mendengar suara dentuman. Begitu keras dan menantang.

 

Hati Rasheed berdegup amat kencang. Dengan penasaran ia berlari ke arah keramaian. Ia sungguh tak dapat memercayai apa yang ditangkap oleh kedua matanya. Rumah Hamzah, sahabat karibnya, kini telah rata dengan permukaan tanah. Saat itu suasana hening mencekam. Dalam reruntuhan batu ia melihat tangan Hamzah menyembul sebagian. Tangan mungil itu hanya bergerak sesaat, untuk kemudian selamanya terdiam.    

 

Negeri itu dulu indah. Begitulah yang sering kuceritakan pada Shareefa. Aku bilang padanya bahwa negeri itu penuh kedamaian. Pun di sana terdapat padang luas untuk berhambur berlarian. Saat musim panas, padang itu gersang serupa dahan. Hawa panas seketika menjalar ke seluruh tubuh kalau kedua kakiku dipijakkan. Ketika musim dingin tiba, padang itu menjadi putih berkilauan. Membuat aku bersumpah takkan sedetikpun kau berniat mengalihkan pandangan.

 

Gadis kecil itu pernah bertanya mengapa aku meninggalkan negeri yang kubilang indah. Kataku, anginlah yang telah membawaku ke dunia yang sekarang. Ia bingung tak keruan. Tetap bertanya tanpa bosan. Aku diamkan karena kuyakin suatu saat waktu akan menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Lalu aku katakan padanya bahwa aku hanya ingin jadi orang yang bisa dibanggakan.

 

Sebelas september dua ribu satu. Usiaku telah menginjak angka tiga satu. Sudah cukup bagiku untuk menuntaskan cita-citaku. Pagi itu langit di New York terlihat biru campur kelabu. Dari jarak beberapa kilometer aku menatap gedung kembar yang mulai runtuh. Sirine polisi dan mobil petugas pemadam kebakaran tak hentinya meraung. Asap hitam pun telah bergumul menggunung. Manusia-manusia yang beruntung berlarian tanpa akal sehat keluar dari gedung. Tak peduli bagaimana cara asalkan mereka tidak terjebak dan hancur di dalam tempurung.

 

Negeri itu dulu indah. Negeri ini juga dulu indah.

Dari gedung lantai empat puluh ini aku bisa melihat dengan jelas bahwa kiamat sedang terjadi. Penduduk kota makin tak tentu berlari ke sana kemari. Dari balik jendela aku hanya bisa memandang dingin. Tersungging seulas senyum dari bibir yang kering. Aku sadar hanya punya kepintaran dan bukan nyali. Aku hanya tahu cara ilmiah bagaimana mengkomposisikan bahan peledak agar bekerja sehebat ini.

 

Aku berbalik dan mendapatkan foto Shareefa dalam pigura mahogani. Anak itu cantik menawan. Rambutnya keemasan. Ia pintar juga hebat. Suatu saat kalau ia bertanya lagi, aku akan menjelaskan bahwa Hamzah-lah yang membuat Ayahnya pergi meninggalkan negerinya. Tapi ia sama sekali belum tahu bahwa negeri indah yang diceritakan Ayahnya kini hanya tinggal puing-puing dan potongan tubuh manusia. Dan kelak Shareefa pun takkan pernah tahu bahwa Ayahnya-lah yang menghabisi nyawa Ibunya, yang tak lain adalah seorang jurnalis Amerika yang tertawan oleh para gerilyawan.

 

 

                                                                                                                 – Jakarta, 1 Agustus 2008 -

Senja di Padang

 

Ibu sedang menumbuk bijih padi di belakang, dia tahu, karena suara hentakan alu terasa terlalu mengiang dalam kesunyian pagi. Tidak ada burung berkicau di atas sana. Musim penghujan sebentar lagi datang. Warna langit sudah kembali kelabu, walau mungkin tidak sekelabu hatinya saat ini.

 

Diandra nama gadis itu. Yang tengah termenung dalam alunan alu. Nanar matanya melihat kerentaan Ibu, yang masih terbebani dengan ketiga anak lainnya – adik-adik Diandra yang masih bersekolah di bangku SD dan SMP, sementara Ayah tak kembali lagi sejak merantau ke Jakarta belasan tahun yang lalu. Sedang dirinya merasa tak bisa apa-apa. Sekolahnya hanya sampai SMA kelas dua. Apalagi di Padang, lapangan pekerjaan hanya sedikit tersedia. Pernah Diandra bekerja sebagai pelayan, namun pada akhirnya ia berhenti juga karena ibu marah-marah saat ia kerap pulang larut sehabis night shift di kafe tempatnya mencari uang.

 

”Ndak usahlah kau bakarajo kalau kau lanteh pulang laruik sarupo hostes! Kito dicibia urang nanti ko…”* sindir Ibu waktu itu.

 

Diandra menyerah. Dirinya merasa serba salah. Sebagai anak perempuan tertua dalam keluarga Minangkabau, Diandra dibebani dengan berbagai macam syarat sebagai manifestasi dari budaya matrilineal yang sudah terlalu melekat. Diandra wajib mengayomi keluarga menggantikan Ayah, lelaki yang dibenci sekaligus dirinduinya. Diandra sayang Ayah, tapi juga membenci sang Ayah karena meninggalkannya di sini, terjebak oleh dominasi sang Ibu. Sejak lahir ia tidak pernah merasa dekat dengan Ibu. Bahkan ia seringkali bertanya dalam hati apakah memang benar wanita yang tengah menumbuk di belakang rumah adalah Ibunya.

 

Diandra kembali tenggelam dalam lamunannya. Seandainya ia boleh bekerja di Jakarta… tentu ia bisa mandiri dan membantu adik-adiknya dengan materi. Kata Imel, temannya, kehidupan di Jakarta penuh tantangan dan sungguh berwarna. Diandra sudah lama memimpikan hidup di kota besar. Mengenal masyarakat yang heterogen, di mana tidak akan ada orang-orang tua yang mengatur dirinya layaknya robot. Tidak akan ada rasa bosan karena dikurung di rumah tua yang sempit dan bobrok. Dan tentu, tidak ada pula perjodohan seperti jaman Siti Nurbaya yang masih diadopsi dan dianut sebagai norma sosial di tanah kelahirannya.

 

Masuaklah, nak…matohari lah tinggi. Sabanta lai urang mudo dari Payakumbuah kan batamu. Mandi lah.., dan kanaikanlah baju suto aluih nan basulam bungo ameh paninggalan tuo…” ** panggil Ibu dari dalam rumah.

 

Diandra terkesiap. Dengan malas-malasan ia kembali ke dunia nyata.

 

Apa Ibu tak bosan-bosan mancarikan Ambo calon suami? Ambo lah gadang!”*** tukas Diandra sambil menahan amarah.

 

Ibu menghela nafas panjang. Satu kali.

Dua kali.

 

”Anakku Diandra, Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kau. Kalau kau jadi menikah dengan anak keluarga Datuak Rajo Ameh dari Payakumbuh yang pengusaha kaya itu, Ibu tak perlu lagi ke sawah setiap pagi, adik-adikmu akan senang karena bisa bayar sekolah tanpa utang.”

 

Betapa egois, pikir Diandra dalam hati. Tapi apa mau dikata? Inilah jalan hidup yang harus diterimanya. Tapi Diandra bersumpah, kalau memang ia harus menikah tanpa cinta, ia hanya akan menguras harta lelaki yang kelak jadi suaminya supaya Ibu puas dan bangga, Tak lebih.

Takkan pernah lebih.

 

Diandra mungkin tidak pintar. Nilai-nilainya di sekolah tak pernah memuaskan. Tapi Diandra seorang gadis periang yang pandai bergaul. Ia senang menjalin pertemanan dengan orang dari berbagai lapisan. Dirinya pun mudah diterima di berbagai lingkungan. Satu ketika Diandra masih bekerja sebagai waitress, pelayan kafe yang disulap menjadi bar di kala malam, Diandra jatuh hati pada seorang pria. Pria itu mempesona. Ia baik dan selalu memanjakan dirinya. Diandra kerap meminta ditugaskan untuk night shift kepada pemilik kafe supaya bisa bercengkrama dengan lelaki itu.

 

Singkatnya, mereka berdua jatuh cinta. Seperti layaknya pasangan muda lainnya, mereka berdua pun dimabuk asmara. Di mata Diandra, lelaki itu benar-benar sempurna. Diandra seakan menemukan diri ayah dalam lelaki itu, sekaligus teman terbaik untuk mendengarkan segala keluh-kesahnya. Lelaki itu mengajarkannya banyak hal, mulai menari di lantai dansa, merokok, berciuman, semua hal-hal yang begitu tabu dibicarakan di keluarga besar dan lingkungan Diandra. Namun semua harus kandas ketika Ibu memaksa Diandra untuk berhenti bekerja dan kembali mendekam di rumah. Semua impian Diandra menjadi sirna.

 

Lelaki itu datang bersama ninik mamaknya****. Diandra tahu, takdirnya harus menjadi seperti ini. Kembali kepada seorang perempuan pengayom keluarga besar. Betapa anehnya budaya matrilineal. Semua orang Padang menganggap dirinya menguasai ilmu agama Islam, pintar mengaji, dan shalat lima waktu. Mereka tidak percaya rutinitas tahlilan pada acara 7-harian dan 40-harian setelah ada saudara yang meninggal, atau upacara nujuh-bulanan ketika seorang Ibu mengandung bayi di bulan ke-7 dalam adat Jawa. Mereka tahu segala aturan agama, bukankah seharusnya mereka juga tahu bahwa Islam menghendaki laki-laki sebagai pemimpin keluarga? Laki-laki yang bertanggung jawab atas harta keluarga, dan bukan perempuan seperti Diandra yang dari jauh hari telah ditasbihkan sebagai pewaris tunggal keluarga besar Datuak Rajo Mudo dari garis keturunan Ibu, hanya karena adik Diandra laki-laki semuanya.

 

Percakapan antara dua keluarga yang berniat menikahkan anaknya terasa hambar. Ibu hanya ingin ’membeli’ si lelaki yang pengusaha kakap di kota Payakumbuh, sementara pihak si lelaki hanya menginginkan nama besar keluarga Ibu yang derajatnya cukup disegani di Padang. Seperti simbiosis mutualisme. Hanya saja kali ini bukan antara kerbau dengan burung gereja, tapi antara dua manusia yang seharusnya punya rasa.

 

Dan senja pun bergulir di Padang. Hembusan semilir angin membawa angan Diandra tentang masa yang akan datang. Benaknya dipenuhi wajah Ibu, lelaki yang akan dinikahinya, adik-adik kecil, lelaki itu, dan kerinduan yang menyesak di dadanya. Ia sudah tidak tahan lagi. Diandra mendekap tubuhnya, bergidik, menyapukan pandangan ke hamparan laut luas. Gugusan Kepulauan Mentawai terlihat samar dari tepi laut tempatnya berpijak. Samudera Hindia yang biru di hadapannya hanya membisu. Serpihan impiannya satu-persatu hanyut ditelan ombak. Mentari hampir tenggelam di ufuk barat.

 

Tapi Diandra hanya tahu bahwa di seberang sana kekasihnya berada. Diandra hanya bisa melihat angannya menjadi nyata di bagian barat yang lain. Diandra hanya mampu mengucapkan satu kalimat dari bibirnya, ”Ich liebe dich, Mr. Krauss…aku akan selalu sayang padamu”, seraya membiarkan dirinya menghambur ke laut lepas. Ia hanya ingin menyatu ke dalam dekapan Krauss.

 

 

                                                                                                            – Jakarta, 31 Juli 2008 -

 

* ”Tidak usahlah kamu bekerja kalau terus-terusan pulang malam seperti pelacur. Nanti kita bisa dihujat orang.”

 

** ”Masuklah, nak…hari sudah siang. Sebentar lagi pemuda dari Payakumbuh akan bertamu. Cepat mandi.., dan pakailah baju sutera halus yang bersulam bunga emas peninggalan nenekmu…”

 

*** ”Apa Ibu tidak bosan mencarikan aku calon suami? Aku sudah besar!”

 

**** Pada budaya Minangkabau yang konvensional, ninik mamak bisa dikatakan sebagai Paman / wali yang bertanggung jawab atas kemenakannya dalam hal materi dan segala aspek kehidupan.

 

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.